Jakarta, [Tanggal Hari Ini] — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa seorang pemimpin geng kriminal paling dicari di dunia, Hector Rusthenford Guerrero Flores (alias Niño Guerrero), tewas dalam operasi militer gabungan AS-Venezuela. Trump menyebut serangan itu sebagai 'serangan kinetik yang cepat dan mematikan' yang dilakukan atas perintah langsungnya.
Geng yang dipimpin Flores, Tren De Aragua, dikenal sebagai sindikat narkoba dan teror transnasional yang berpusat di Venezuela. Flores sendiri selama ini menjadi buronan setelah kabur dari penjara Tocoron pada 2023, sesaat sebelum penggerebekan polisi. Ia bahkan sudah didakwa di pengadilan New York secara in absentia atas konspirasi pemerasan dan pendanaan teroris.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengonfirmasi bahwa operasi ini menargetkan langsung markas Tren De Aragua di negara bagian Bolivar, Venezuela. 'Operasi ini menegaskan komitmen bersama AS dan Venezuela untuk melawan narco-teroris dan tidak memberi mereka tempat berlindung yang aman,' tulis Hegseth di media sosial.
Pemerintah Venezuela pun angkat bicara. Mereka mengklaim Flores tewas dalam 'bentrokan dengan anggota kelompok kriminal' dan mengakui partisipasi mereka dalam operasi tersebut. Namun, langkah ini tetap menuai kontroversi. Sebelumnya, Trump juga sempat menuding Presiden Maduro melindungi geng ini—tanpa bukti kuat—dan bahkan pernah menculik Maduro serta istrinya dalam penggerebekan di Caracas pada Januari lalu.
Analisis Dampak: Kematian Flores memang pukulan telak bagi jaringan Tren De Aragua yang memiliki sekitar 7.000 anggota di seluruh Amerika. Namun, para pengamat menilai operasi ini bisa menjadi bumerang. Trump sebelumnya juga melakukan serangan terhadap perahu-perahu kecil di Pasifik dan Karibia yang diklaim menargetkan geng ini, tapi menewaskan sedikitnya 207 orang. Keluarga korban bersikeras mereka adalah nelayan, dan para ahli hukum menyebut serangan itu sebagai 'eksekusi di luar proses hukum' yang ilegal. Selain itu, langkah deportasi imigran ke penjara supermax di El Salvador dengan alasan terkait geng ini juga dinilai sarat pelanggaran HAM.