Tragedi kemanusiaan kembali menyelimuti pengungsi Palestina di Lebanon. Ratusan keluarga, termasuk Dalal Dawali dan anak-anaknya, terpaksa angkat kaki lagi dari rumah sementara mereka di Dahiyeh, selatan Beirut, pasca serangan bom Israel. Mereka kini berbondong-bondong mencari perlindungan di kamp pengungsian Beddawi di Lebanon utara, menambah panjang daftar pengungsi yang terusir berulang kali.
Kisah Dalal Dawali adalah cerminan pilu dari ribuan pengungsi Palestina lainnya. Ini bukan kali pertama ia harus meninggalkan semua demi keselamatan. Serangan udara Israel di Dahiyeh, sebuah pinggiran kota Beirut, memicu gelombang kepanikan dan memaksa warga sipil untuk sekali lagi melarikan diri dari zona konflik. Dahiyeh, yang padat penduduk, kini menjadi saksi bisu kehancuran dan trauma baru bagi mereka yang sudah lama hidup dalam ketidakpastian.
Gelombang pengungsian baru ini tentu saja memperparah krisis kemanusiaan di Lebanon yang sudah sangat tertekan. Negara ini telah menampung jutaan pengungsi Palestina selama beberapa dekade, ditambah lagi dengan jutaan pengungsi Suriah. Infrastruktur dan ekonomi Lebanon sudah berada di ambang batas, dan kedatangan ratusan keluarga baru ke kamp seperti Beddawi akan menambah beban fasilitas dasar, seperti air bersih, sanitasi, dan tempat tinggal. Situasi ini menyoroti siklus kekerasan tak berujung dan dampaknya yang brutal pada warga sipil tak bersalah, yang terus-menerus dipaksa membayar harga paling mahal dari konflik yang bukan mereka ciptakan.