Berlin, Jerman – Seorang dokter asal Amerika Serikat yang terinfeksi virus Ebola saat bertugas di Republik Demokratik Kongo (DRC) akhirnya dinyatakan sembuh setelah menjalani perawatan intensif selama dua minggu di Rumah Sakit Charite, Berlin. Pria berusia 39 tahun yang diidentifikasi sebagai Peter Stafford itu kini dalam kondisi sehat dan diperbolehkan keluar dari ruang isolasi pada Sabtu (8/6).
Stafford diketahui terpapar virus langka Bundibugyo, salah satu strain Ebola yang mewabah di Afrika timur dan tengah. Ia diduga tertular saat mengoperasi pasien Ebola di timur DRC, sebelum wabah resmi diumumkan pada 15 Mei lalu. Sang dokter diterbangkan dari Uganda ke Jerman menggunakan pesawat khusus dengan prosedur keamanan super ketat.
Yang menarik, istri dan empat anak Stafford yang awalnya dikategorikan sebagai kontak berisiko tinggi juga dinyatakan bebas dari virus dan keluar dari karantina di hari yang sama. Direktur Departemen Penyakit Menular RS Charite, Leif Erik Sander, menyebut kesembuhan ini sebagai 'keberhasilan terapi yang signifikan' meskipun pasien hanya menerima terapi eksperimental yang masih dalam tahap uji coba.
Sayangnya, hingga kini belum ada vaksin resmi yang disetujui untuk strain Bundibugyo. Tiga kandidat vaksin memang tengah dipercepat uji klinisnya, tapi belum ada yang siap digunakan secara massal. Situasi ini menjadi alarm keras, mengingat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah menyatakan wabah Ebola di DRC dan Uganda sebagai darurat kesehatan global.
Data terbaru menunjukkan total kasus Ebola di DRC melonjak menjadi 488 kasus dengan 86 kematian. Sementara Uganda mengonfirmasi 19 kasus dan dua kematian. Uganda bahkan hampir menutup total perbatasan baratnya dengan DRC untuk menahan penyebaran, meski langkah ini memicu protes dari para pedagang yang bergantung pada jalur tersebut. Pusat Pengendalian Penyakit AS (CDC) memperingatkan wabah ini berpotensi menjadi yang terbesar dalam sejarah, menyamai epidemi dahsyat di Afrika Barat pada 2014-2016.