PERANG TIMUR TENGAH SIKSA PAKISTAN: KRISIS GAS MENGANCAM! - Berita Dunia
← Kembali

PERANG TIMUR TENGAH SIKSA PAKISTAN: KRISIS GAS MENGANCAM!

Foto Berita

Siapa sangka, negara yang awalnya berlimpah pasokan gas seperti Pakistan, kini mendadak di ambang krisis energi parah? Dulu, Pakistan justru kebingungan mengatasi surplus gas alam cair (LNG) impor. Permintaan domestik lesu karena tren panel surya murah dan pabrik-pabrik yang mengurangi produksi. Bahkan, pemerintah sempat menjual kelebihan kiriman gas ke negara lain dan menutup sumur gas domestik untuk mencegah kelebihan tekanan di pipa.

Namun, situasi berubah drastis bagai membalik telapak tangan. Awal tahun ini, konflik di Timur Tengah meletup hebat. Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran, yang mereka sebut Operasi Epic Fury. Puncaknya, pemimpin tertinggi Iran tewas dalam serangan pembuka. Iran tak tinggal diam, membalas dengan rentetan rudal dan drone yang melumpuhkan lalu lintas vital di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui seperlima pasokan minyak dan gas dunia.

Dampaknya langsung terasa di sektor energi. Drone Iran menyerang fasilitas gas Qatar di Ras Laffan Industrial City, pusat ekspor LNG terbesar dunia. Qatar, eksportir LNG kedua terbesar setelah AS, terpaksa menghentikan total produksinya dan menyatakan force majeure, alias lepas dari kewajiban pengiriman karena keadaan di luar kendali. Escalasi semakin parah ketika Israel menyerang ladang gas South Pars milik Iran, ladang terbesar di dunia. Ini sangat krusial karena South Pars Iran dan North Field Qatar berada di satu reservoar bawah tanah yang sama, mengancam produksi gas kedua negara.

Serangan balasan Iran ke Ras Laffan lagi-lagi membuat QatarEnergy memangkas produksi LNG hingga 17 persen, dengan estimasi perbaikan bisa makan waktu hingga lima tahun. Akibatnya? Harga minyak mentah Brent melonjak di atas $109 per barel, dan harga gas di Eropa melambung 6 persen dalam sehari perdagangan saja.

Bagi Pakistan, yang hampir seluruh kebutuhan gas impornya disuplai dari Qatar dan Uni Emirat Arab, dan tanpa cadangan darurat sama sekali, perubahan dari surplus menjadi kelangkaan ekstrem terjadi dalam semalam. Negara ini mengandalkan sekitar 2.700 juta kaki kubik gas per hari dari ladang domestik yang terus menurun, dan sekitar 600 juta kaki kubik dari LNG impor Qatar. Dengan pasokan vital dari Qatar terganggu parah, Pakistan kini terancam kelangkaan energi yang bisa memicu krisis ekonomi lebih dalam, pemadaman listrik, dan potensi gejolak sosial, menambah beban utang energi yang sudah menumpuk. Dunia pun patut waspada, karena lonjakan harga energi ini berpotensi memicu inflasi global dan menghambat pemulihan ekonomi di banyak negara.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook