Pemilu sela Amerika Serikat pada Selasa lalu menjadi tontonan politik yang dinanti banyak negara di kawasan Asia-Pasifik. Bukan tanpa alasan, pemerintah dan pelaku usaha di kawasan ini sedang terpuruk akibat guncangan energi dari perang AS-Israel melawan Iran, ditambah kebijakan tarif resiprokal Donald Trump yang mencekik perdagangan.
Banyak pihak berharap ada perubahan besar dalam arah kebijakan luar negeri AS, terutama terkait perang Iran dan tarif. Namun ekspektasi itu realistis? Pengamat menilai kecil kemungkinan perubahan signifikan meski Partai Demokrat berpotensi menguasai DPR, bahkan Senat.
Steven Okun, pakar perdagangan dari APAC Advisors, menilai Kongres yang dikuasai Demokrat hanya akan melakukan pengawasan dan investigasi terhadap perang, tanpa bisa menghentikannya. Bahkan jika ada upaya pemakzulan Menteri Pertahanan, dampak perang tetap tidak berubah. Trump disebut mengklaim serangan ke Iran sebagai tindakan bela diri dan mengabaikan resolusi Kongres.
Dampak perang Iran terasa paling dalam di Asia-Pasifik. Sebelum konflik meletus Januari lalu, kawasan ini menyerap sebagian besar minyak dan gas Teluk yang melewati Selat Hormuz. Ketika Iran menutup selat itu, banyak negara mengalami krisis energi. Filipina yang bergantung 90 persen impor minyak mentah dari Teluk terpaksa berstatus darurat energi nasional sejak Maret. Cadangan devisa negara termiskin seperti Kamboja, Laos, Myanmar, dan Timor Leste terkuras habis. Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam juga menggelontorkan subsidi bahan bakar besar-besaran.
Di sisi perdagangan, Kongres dinilai nyaris tak punya ruang membendung kebijakan tarif Trump yang sempat mengguncang pasar global dengan tarif 10 hingga 50 persen ke sekitar 90 negara. Opini publik kawasan tetap menolak perang, tetapi realitas politik AS membatasi harapan akan perubahan cepat.