Menghadapi ancaman serangan drone yang membawa bahan peledak, kepolisian di Distrik Hangu, Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan, mengambil langkah taktis yang terbilang sederhana namun inovatif. Mereka memasang jaring ikan berukuran besar yang dibentangkan beberapa meter di atas pos pemeriksaan (checkpost) untuk menjebak dan menahan drone musuh sebelum mencapai target.
Inspektur Polisi Fayyaz Khan mengenang bagaimana dirinya dan rekan-rekannya harus berlindung dari hujan bom yang dijatuhkan drone milik Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) pada April lalu. Serangan yang berlangsung sekitar tujuh jam tersebut menewaskan seorang pengemudi kendaraan lapis baja dan melukai seorang anggota polisi. Insiden mematikan itulah yang memicu ide penggunaan jaring sebagai 'langit-langit' pelindung.
Perwira Polisi Distrik Hangu, Tariq Habib, menjelaskan bahwa biaya pemasangan jaring untuk satu pos pemeriksaan standar menghabiskan sekitar 400.000 Rupee Pakistan atau setara Rp22 juta. Sejak dipasang dua bulan lalu, belum ada lagi laporan serangan drone di pos Sarki Piyala. Selain menjebak drone, jaring ini dinilai efektif mengurangi dampak ledakan karena serpihan bom akan tersebar di udara, bukan langsung menghantam personel di bawahnya.
Analisis Dampak: Langkah ini menjadi solusi darurat yang sangat dibutuhkan mengingat keterbatasan teknologi perang anti-drone modern di wilayah perbatasan. Bagi masyarakat sipil di sekitar area konflik, inovasi ini memberikan rasa aman tambahan karena mengurangi risiko jatuhnya korban jiwa akibat serangan udara. Metode ini juga menunjukkan bagaimana adaptasi taktis di medan perang tidak selalu membutuhkan teknologi canggih, melainkan solusi murah yang tepat guna. Program ini kini tengah diusulkan untuk diperluas ke distrik-distrik rawan lainnya seperti Kohat, Karak, dan Bannu.