Kabar pilu datang dari Republik Demokratik Kongo (DRC). Lebih dari 200 orang dilaporkan tewas dalam insiden tanah longsor dahsyat di tambang koltan Rubaya, bagian timur negara itu. Tragedi yang terjadi pada Rabu lalu ini menghantam para penambang, anak-anak, dan pedagang di area tambang yang terletak sekitar 60 kilometer barat laut Goma, ibu kota Provinsi Kivu Utara.
Juru bicara gubernur yang ditunjuk kelompok pemberontak, Lumumba Kambere Muyisa, menyampaikan kepada Reuters bahwa jumlah korban tewas diperkirakan mencapai lebih dari 200 orang. Beberapa korban berhasil diselamatkan namun mengalami luka serius, dengan sekitar 20 orang kini dirawat intensif di fasilitas kesehatan. Penyebab utama longsor ini disebut karena kondisi tanah yang labil akibat musim hujan, membuat area galian tak mampu menahan beban dan akhirnya ambruk.
Kendati demikian, hingga Jumat malam, angka pasti korban tewas dan luka masih simpang siur dan sulit dikonfirmasi secara independen. Ini juga diakui oleh Eraston Bahati Musanga, gubernur Kivu Utara yang ditunjuk kelompok pemberontak M23, yang hanya menyebut "beberapa jenazah telah ditemukan" tanpa merinci jumlahnya.
Tragedi ini menyoroti kondisi pelik di balik tambang Rubaya yang krusial. Tambang ini diketahui menyuplai sekitar 15 persen kebutuhan koltan dunia, mineral vital yang diolah menjadi tantalum. Tantalum adalah logam tahan panas yang sangat dicari untuk produksi ponsel, komputer canggih, komponen pesawat terbang, hingga turbin gas.
Ironisnya, di balik kekayaan mineral yang luar biasa, mayoritas penduduk Kongo, lebih dari 70 persennya, masih hidup dengan kurang dari $2.15 per hari. Para penambang di Rubaya sendiri kerap bekerja secara manual demi upah beberapa dolar per hari dalam kondisi yang berbahaya.
Situasi di Rubaya semakin rumit karena tambang ini telah dikuasai oleh kelompok pemberontak M23 yang didukung Rwanda sejak tahun 2024. Kelompok ini, yang bertujuan menggulingkan pemerintah Kongo, dituduh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjarah sumber daya tambang untuk mendanai pemberontakan mereka – sebuah tuduhan yang dibantah Rwanda. Kelompok hak asasi manusia pun sebelumnya sudah menyuarakan keprihatinan atas kondisi di tambang ini, jauh sebelum insiden tragis ini terjadi.