Situasi di Provinsi Balochistan, Pakistan, kembali memanas dengan gelombang serangan terkoordinasi oleh kelompok separatis yang menewaskan hampir 200 orang, termasuk puluhan warga sipil. Insiden ini terjadi di tengah gejolak konflik yang sudah berlangsung lama, memicu kekhawatiran akan stabilitas regional.
Pertempuran sengit dilaporkan berlangsung selama hampir 40 jam di wilayah pegunungan Sulaiman dan Kirthar. Kelompok separatis terlarang, Balochistan Liberation Army (BLA), yang sejak puluhan tahun silam berjuang untuk kemerdekaan Balochistan, mengklaim bertanggung jawab atas serangan di lebih dari selusin lokasi di provinsi barat daya tersebut.
Data dari Angkatan Darat Pakistan menyebutkan, total korban jiwa mencapai 193 orang. Rinciannya, 31 warga sipil tak berdosa, 17 personel keamanan, dan 145 anggota BLA. Sebanyak lebih dari 100 korban tewas tercatat hanya pada hari Sabtu lalu. Meski BLA mengklaim telah menewaskan 84 personel keamanan Pakistan, klaim tersebut dibantah oleh pihak berwenang.
Pemerintah Pakistan, melalui Menteri Penerangan Attaullah Tarar, menegaskan kontrol penuh dan menyebut serangan BLA sebagai 'napas terakhir musuh yang terpojok'. Namun, narasi dominasi ini dibayangi oleh angka kematian belasan personel keamanan dan warga sipil yang terjebak di tengah baku tembak, menunjukkan gambaran yang lebih kompleks dari yang disampaikan.
Seperti pola yang sering terjadi, Islamabad kembali menuduh 'tangan asing' berada di balik serangan ini, secara spesifik mengarah pada India. Narasi ini terus-menerus dikaitkan dengan rival historis Pakistan tersebut, bahkan menyebut para pejuang separatis sebagai 'Fitna-al-Hindustan' atau 'provokasi India'. Kasus Kulbhushan Jadhav, warga negara India yang dijatuhi hukuman mati atas tuduhan spionase pada 2016 dan video pengakuannya memfasilitasi serangan di Balochistan, sering dijadikan bukti utama oleh Pakistan. Tuduhan ini belum ditanggapi secara resmi oleh New Delhi.
Analis melihat, tudingan 'tangan asing' ini berupaya mereduksi kompleksitas konflik di Balochistan yang berakar pada ketidakpuasan lokal dan isu-isu geopolitik berisiko tinggi. Dengan menyalahkan pihak luar, militer Pakistan diposisikan sebagai pembela kedaulatan, bukan sebagai pihak dalam perselisihan internal. Namun, eskalasi ini semakin memperlihatkan bahwa Balochistan tetap menjadi titik didih ketegangan yang membutuhkan penanganan lebih komprehensif, tidak hanya retorika politik, demi mencegah jatuhnya lebih banyak korban jiwa dan kehancuran.