Hidup di Kuba kini semakin sulit. Negara kepulauan di Karibia ini tengah dicekik krisis bahan bakar parah yang melumpuhkan sendi-sendi kehidupan. Penyebabnya, tak lain adalah blokade minyak oleh Amerika Serikat yang kian diperketat, khususnya setelah Washington menekan sekutu utama Kuba, Venezuela.
Tekanan AS, yang sudah berlangsung puluhan tahun, kini membawa 11 juta penduduk Kuba ke tepi jurang. Pemerintah terpaksa memberlakukan langkah darurat, mulai dari rasionalisasi bahan bakar, pemadaman listrik berjam-jam setiap hari, hingga pengurangan jam kerja dan penutupan fasilitas umum seperti tempat wisata. Angkutan umum sepi, dapur-dapur kembali mengandalkan kayu bakar dan arang, menandai kemunduran ekonomi yang diperparah oleh kebijakan pemerintahan Trump yang terang-terangan ingin mengganti rezim di Havana.
Wakil Perdana Menteri Kuba, Oscar Perez-Oliva Fraga, menegaskan langkah darurat ini demi 'mempertahankan fungsi esensial negara dan layanan dasar' dengan sumber daya bahan bakar yang terbatas. Perusahaan negara kini beralih ke empat hari kerja, transportasi antarprovinsi dikurangi, jam sekolah dipersingkat, dan kehadiran tatap muka di universitas dibatasi. Prioritas bahan bakar diberikan untuk layanan publik vital seperti kesehatan, produksi pangan, dan pertahanan. Tak hanya itu, Kuba juga bertekad mempercepat pengembangan energi terbarukan berbasis tenaga surya sebagai jalan keluar jangka panjang.
Krisis ini bukan sekadar masalah energi, melainkan cerminan ambisi geopolitik AS untuk mendominasi Belahan Barat. Setelah menekan Venezuela dan bahkan menculik Presiden Nicolas Maduro, Washington kini mengarahkan moncong senjatanya ke Havana, bertujuan mengisolasi dan 'mencekik' ekonomi Kuba yang selama ini bergantung pada pasokan minyak dari sekutu seperti Venezuela, Meksiko, dan Rusia. Dengan blokade terhadap minyak Venezuela, AS secara langsung memutus urat nadi energi Kuba.
Meski menghadapi tekanan luar biasa, pemerintah Kuba menyatakan optimisme. 'Ini adalah kesempatan dan tantangan yang tidak kami ragukan akan kami atasi. Kami tidak akan runtuh,' tegas Perez-Oliva. Namun, di balik pernyataan tersebut, masyarakat Kuba harus menghadapi kenyataan pahit: kehidupan yang semakin sulit, keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar, dan ketidakpastian masa depan. Krisis ini juga menjadi pengingat betapa rentannya sebuah negara kecil di tengah tarik-ulur kekuatan global, dengan sanksi ekonomi sebagai senjata utamanya.