Langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk meredakan ketegangan dengan Iran ternyata tidak disambut baik oleh sekutu terdekatnya di Timur Tengah, Israel. Tel Aviv diprediksi akan menunjukkan penolakan keras atas kebijakan de-eskalasi ini, memicu pertanyaan besar tentang arah hubungan kedua negara ke depan.
Berbagai laporan, termasuk dari Al Jazeera yang diulas jurnalis Nida Ibrahim, mengindikasikan pejabat Israel secara terbuka menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap perkembangan terbaru ini. Mengapa Israel sampai "meradang" atas upaya perdamaian atau setidaknya pelonggaran konflik?
Secara historis, Israel memandang Iran sebagai ancaman keamanan nomor satu di kawasan. Kekhawatiran utama Israel berpusat pada program nuklir Iran yang ambisius, serta dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok proksi seperti Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Gaza, yang seringkali menjadi musuh bebuyutan Israel.
Bagi Tel Aviv, tekanan maksimal dan sanksi keras adalah cara paling efektif untuk membendung pengaruh Iran. Kebijakan de-eskalasi atau dialog yang diusung oleh Washington di bawah Trump, yang bisa saja mengurangi tekanan tersebut, justru dianggap melemahkan posisi Israel dan berpotensi membahayakan keamanan nasional mereka.
Penolakan Israel ini diprediksi akan menciptakan ketegangan baru dalam hubungan strategis antara Amerika Serikat dan Israel, dua negara yang selama ini dikenal sangat dekat. Ini bukan hanya sekadar perbedaan pandang, melainkan potensi pergeseran kebijakan yang bisa memicu berbagai dinamika geopolitik di Timur Tengah. Dunia menanti bagaimana Tel Aviv akan "melawan" atau setidaknya mencari cara untuk memengaruhi kembali Washington agar mengadopsi garis keras terhadap Iran.