Jakarta, 2025 – Dunia mungkin mengira konflik Israel-Palestina sudah mereda setelah gencatan senjata di Gaza. Namun, laporan dari pengacara Palestina-Amerika mengungkap fakta mengejutkan: kekerasan Israel terhadap warga Palestina justru terus meningkat, hanya saja sorotan media global kini beralih ke perang dengan Iran.
Dalam laporan yang viral di media sosial, disebutkan bahwa bayi berusia tujuh bulan bernama Sam Fahd Abu Haikal tewas ditembak tentara Israel di wajahnya dekat Hebron, Tepi Barat. Peristiwa ini nyaris tidak diliput media Barat yang lebih sibuk memberitakan konflik Israel-Iran.
Faktanya, sejak gencatan senjata Oktober lalu, Israel mencatat lebih dari 2.000 pelanggaran gencatan senjata hingga musim semi. Akibatnya, setidaknya 981 warga Palestina tewas, termasuk banyak anak-anak yang ditembak saat mendekati garis kuning yang terus bergerak mendekati pemukiman mereka.
Lebih dari separuh wilayah Gaza kini dianeksasi secara de facto oleh Israel. Warga Palestina masih kelaparan karena bantuan pangan diperlakukan sebagai alat tawar-menawar, bukan hak asasi. Sementara itu, pemukim Israel terus membakar rumah dan mobil warga di Tepi Barat dengan perlindungan penuh militer Israel.
Media Barat jarang memberitakan desa-desa seperti Sinjil yang dikepung kawat berduri, atau bagaimana warga Palestina dilarang mengakses lahan mereka sendiri. Sorotan global yang beralih ke perang Israel-Iran membuat kekejaman ini berlangsung tanpa pengawasan.
Analisis: Situasi ini menunjukkan pola lama dimana krisis kemanusiaan Palestina terus diabaikan saat agenda geopolitik berubah. Pakar hubungan internasional menilai, tanpa tekanan media dan masyarakat global, kekerasan akan terus berlangsung tanpa batas. Ini bukan sekadar konflik, melainkan genosida bertahap yang terjadi di depan mata dunia yang sengaja memalingkan wajah.