Pencetus istilah BRIC, ekonom terkemuka Jim O'Neill, kini justru melontarkan pandangan mengejutkan: koalisi ekonomi Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan (BRICS) disebut mulai kehilangan taji. Padahal, 25 tahun silam, ia melihat potensi besar dari kelompok ini sebagai penantang serius dominasi dolar AS dan institusi ekonomi Barat seperti Bank Dunia, G7, dan IMF.
Namun, O'Neill, yang kini menjadi anggota House of Lords Inggris, melihat adanya perbedaan agenda politik antaranggota serta munculnya kekuatan-kekuatan baru sebagai penyebab utama memudarnya relevansi BRICS. Ia bahkan berpandangan bahwa kebijakan ekonomi Amerika Serikat sendiri mungkin menjadi pendorong kemundurannya, apalagi di tengah makin menguatnya ekonomi China dan India.
Ironisnya, pandangan O'Neill ini muncul di tengah geliat BRICS yang justru baru saja memperluas anggotanya dengan masuknya sejumlah negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir, Iran, dan Ethiopia. Ekspansi ini bisa jadi upaya untuk memperkuat posisi di panggung global, namun di sisi lain, potensi perbedaan kepentingan politik antaranggota yang semakin beragam justru bisa memperkeruh tantangan yang diungkapkan O'Neill.
Bagi Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya, dinamika BRICS ini menjadi sangat penting. Jika aliansi ini benar-benar melemah, peta jalan menuju tatanan ekonomi global yang lebih multipolar mungkin akan menemui hambatan. Ini berarti, upaya de-dolarisasi atau pencarian alternatif terhadap dominasi lembaga keuangan Barat bisa jadi memerlukan strategi yang lebih kompleks dan panjang ke depan. Dunia pun patut bertanya, apakah BRICS akan benar-benar kehilangan giginya atau justru menemukan cara baru untuk bangkit?