HEBRON DIBLOKADE, RIBUAN WARGA MENGUNGSI - Berita Dunia
← Kembali

HEBRON DIBLOKADE, RIBUAN WARGA MENGUNGSI

Foto Berita

Ketegangan di Kota Hebron, Tepi Barat, memanas setelah militer Israel melancarkan operasi besar-besaran. Pemicunya adalah serangan dua warga Palestina terhadap pos pemeriksaan militer Israel di kawasan Farsh Al-Hawa pada Jumat lalu, yang menewaskan dua tentara Israel dan melukai sejumlah lainnya. Sejak insiden itu, Hebron—yang dikenal sebagai ibu kota ekonomi Tepi Barat—dikepung dan diberlakukan karantina wilayah ketat.

Dalam operasi tersebut, pasukan Israel merobohkan sebuah gedung tiga lantai dan sejumlah fasilitas industri. Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich mengaku memerintahkan penghancuran bangunan tersebut. Akibatnya, lebih dari 2.000 warga Palestina terpaksa mengungsi dari rumah mereka. Data otoritas kota menunjukkan hampir separuh pengungsi adalah bayi dan anak-anak di bawah 18 tahun, serta 81 ibu hamil dan 204 lansia.

Salah satu warga, Fahd Ahmaro, mengaku terpaksa meninggalkan rumahnya karena perempuan dan anak-anak panik ketakutan. "Kami pergi hanya dengan pakaian di badan. Tabungan, barang, dan dokumen semua tertinggal di rumah," ujarnya. Ia sempat mencoba kembali setelah keluarganya aman, namun situasi dinilai terlalu berbahaya.

Otoritas Palestina di Hebron menetapkan status darurat dan membentuk gugus tugas krisis yang melibatkan pemerintah, swasta, dan masyarakat sipil. Solidaritas warga pun menguat. Sejumlah dermawan membuka rumah mereka untuk para pengungsi. Pengembang properti Mohamed Al-Rujoob, misalnya, menyediakan beberapa apartemen di Kota Dura bagi keluarga terdampak. Kini ia menampung tiga keluarga besar dengan total 30 anak. "Kita harus menjaga martabat orang. Hari ini kita menampung mereka, besok bisa jadi kita yang butuh tempat berlindung," katanya.

Militer Israel menyatakan Hebron dalam status terkunci, yang berdampak pada hampir 1 juta warga Palestina di kota dan sekitarnya. Pembatasan gerak ini memukul sektor pendidikan dan ekonomi di distrik terbesar Tepi Barat tersebut, dengan sekolah-sekolah dialihkan ke pembelajaran daring. Situasi ini dikhawatirkan memperburuk kondisi kemanusiaan dan memicu ketegangan lebih luas di Tepi Barat.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook