Peningkatan drastis serangan udara Israel ke Lebanon sepanjang Januari lalu telah memicu kekhawatiran serius. Menurut laporan Norwegian Refugee Council (NRC), setidaknya 50 serangan pesawat tempur Israel menghantam wilayah Lebanon, jumlah ini dua kali lipat dibanding bulan sebelumnya dan menjadi yang tertinggi sejak gencatan senjata disepakati.
NRC menegaskan, intensifikasi serangan ini membuat perjanjian damai yang disepakati setelah lebih dari setahun konflik dan dua bulan serangan gencar Israel, kini hanya 'sebatas tinta di atas kertas'. Serangan-serangan tersebut, yang dilaporkan tidak termasuk serangan drone atau pergerakan darat, menargetkan puluhan kota dan desa di Lebanon selatan serta Lembah Bekaa. Sebagai contoh, militer Israel mengklaim menargetkan 'infrastruktur militer' Hezbollah di desa Kfar Tebnit dan Ain Qana sebagai respons atas upaya kelompok tersebut membangun kembali aktivitasnya.
Namun, dampaknya dirasakan langsung oleh warga sipil. Rumah-rumah hancur, ribuan keluarga terpaksa mengungsi – menambah daftar sekitar 64.000 orang yang sudah mengungsi akibat konflik sebelumnya. Bahkan, Presiden Lebanon Joseph Aoun menuduh Israel melakukan kejahatan lingkungan setelah pesawatnya menyemprotkan zat tak dikenal di atas kota-kota Lebanon selatan.
Organisasi kemanusiaan seperti NRC menghadapi tantangan besar. Upaya rekonstruksi yang sangat dibutuhkan menjadi terhambat karena serangan terus berulang. Sebuah sekolah di Bekaa Barat yang baru saja diperbaiki oleh NRC, misalnya, kembali rusak akibat serangan terbaru, mengganggu pendidikan anak-anak.
Eskalasi ketegangan ini bukan hanya ancaman bagi warga Lebanon, tetapi juga menggarisbawahi rapuhnya stabilitas di kawasan tersebut. Konflik antara Israel dan Hezbollah yang kerap memanas, terutama di tengah situasi geopolitik Timur Tengah yang bergejolak, dapat memicu krisis kemanusiaan yang lebih dalam dan memperluas cakupan konflik regional. NRC pun menyerukan kepada sekutu Israel untuk berupaya menghentikan serangan terhadap warga sipil ini.