PILPRES KOLOMBIA KIAN PANAS: KANAN VS KIRI DI PUTARAN KEDUA - Berita Dunia
← Kembali

PILPRES KOLOMBIA KIAN PANAS: KANAN VS KIRI DI PUTARAN KEDUA

Foto Berita

Bogota, Kolombia - Peta politik Kolombia memanas setelah pemilihan presiden putaran pertama pada Minggu (27/5) gagal menghasilkan pemenang mutlak. Dua kandidat dari kutub berseberangan, yaitu kubu kanan dan kiri, akan bertarung sengit di putaran kedua pada 21 Juni mendatang.

Hasil sementara menunjukkan kandidat sayap kanan, Abelardo de la Espriella, seorang pengagum mantan Presiden AS Donald Trump, unggul tipis dengan raihan 43,7% suara. Ia mengalahkan senator sayap kiri, Ivan Cepeda, yang merupakan sekutu dekat Presiden petahana Gustavo Petro, yang memperoleh 41% suara. Sementara itu, kandidat konservatif moderat, Paloma Valencia, yang hanya mendapat kurang dari 7% suara, telah menyatakan dukungannya kepada De La Espriella.

Namun, suasana politik justru semakin genting. Presiden Petro yang mendukung Cepeda menolak hasil hitung cepat dan menuding adanya kecurangan massif, termasuk klaim bahwa 'ratusan ribu suara ditambahkan' secara ilegal, meski tanpa bukti. Otoritas pemilu setempat justru menyatakan proses pemungutan suara berjalan 'normal dan aman'.

Kedua kandidat menawarkan visi yang sangat berbeda untuk menyelesaikan konflik bersenjata internal yang telah berlangsung puluhan tahun. Cepeda dikenal sebagai arsitek strategi 'perdamaian total' ala Presiden Petro yang mengedepankan dialog dan negosiasi dengan kelompok bersenjata. Sayangnya, strategi ini menuai kritik tajam karena dianggap gagal total. Data menunjukkan, di bawah kepemimpinan Petro, produksi kokain justru mencapai rekor tertinggi, keanggotaan kelompok bersenjata bertambah, dan kekerasan di perbatasan melonjak drastis hingga mengungsikan puluhan ribu orang.

Di sisi lain, De La Espriella, yang dijuluki 'El Tigre', berjanji akan menggunakan pendekatan keras. Ia menyebut kemenangan tipisnya di putaran pertama sebagai 'kemenangan melawan tirani dan absolutisme'. Ia mengkritik habis-habisan kebijakan Petro yang dinilai terlalu lunak pada kelompok kriminal. Pertarungan di putaran kedua ini diprediksi akan sangat ketat dan menentukan arah kebijakan keamanan dan ekonomi Kolombia ke depan, terutama bagi rakyat yang masih bergulat dengan angka kemiskinan yang mencapai sepertiga dari total populasi.

Analisis Dampak: Hasil pilpres ini menjadi sinyal kuat bahwa rakyat Kolombia terbelah antara keinginan akan perubahan radikal melalui pendekatan kiri atau kembali ke kebijakan keamanan keras ala kanan. Kekerasan yang mewarnai kampanye, termasuk pembunuhan kandidat dan serangan drone, menunjukkan bahwa konflik bersenjata masih menjadi ancaman nyata. Terlepas dari siapa yang menang, presiden baru harus segera mengatasi krisis keamanan dan ekonomi yang semakin kompleks, atau risiko negara ini kembali terjerumus ke dalam kekacauan yang lebih dalam.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook