Kebijakan seragam sekolah baru di Azerbaijan memicu gelombang protes. Sejak Senin lalu, Kementerian Pendidikan setempat melarang siswi mengenakan hijab di sekolah negeri dengan alasan bertentangan dengan prinsip sekularisme. Aturan ini tertuang dalam regulasi yang disahkan 21 September, meski tidak secara eksplisit menyebut kata 'hijab'.
Video-video yang beredar di media sosial menunjukkan para siswi berhijab ditolak masuk gerbang sekolah. Dalam salah satu rekaman, seorang remaja berseru menantang petugas sekolah, 'Mengapa saya harus melepaskan agama saya?' Sementara teman-temannya bertepuk tangan mendukung. Aksi solidaritas juga muncul di luar Sekolah No. 69 Balakhany dengan spanduk bertuliskan 'Hijab tidak menghalangi siapa pun untuk mendapat pendidikan'.
Pemerintah bertindak tegas. Kementerian Dalam Negeri melaporkan telah menahan 37 orang yang dianggap menghalangi aturan dan 'melanggar ketertiban umum secara kasar'. Seorang ibu bernama Shahiza Huseynova ditahan setelah memprotes aturan ini. Suaminya mengungkapkan bahwa pihak berwenang memberikan ultimatum: lepaskan hijab anak atau masuk penjara.
Situasi semakin memanas dengan hilangnya aktivis Ilkin Huseynov. Ia dilaporkan dibawa pria tak dikenal dari rumahnya di Baku pada Rabu sore, dan ponselnya tidak aktif sejak saat itu. Huseynov sebelumnya meluncurkan platform online 'Let Leyli Go to School' yang menyediakan kelas gratis bagi siswi yang dilarang masuk. Akses ke Instagram platform tersebut juga dilaporkan terblokir.
Azerbaijan, negara berpenduduk 10,5 juta jiwa yang kaya minyak dan gas, secara konstitusional menganut sekularisme ketat. Presiden Ilham Aliyev yang berkuasa sejak 2003 dikenal tidak toleran terhadap perbedaan pendapat. Protes semacam ini jarang terjadi di negara yang secara budaya terbelah antara pengaruh Turki yang Sunni dan Iran yang Syiah.