Misi Perdamaian PBB di Sahara Barat (MINURSO) resmi berakhir setelah Rusia memblokir resolusi perpanjangan yang diajukan Amerika Serikat. Langkah ini menuai respons positif dari Maroko, namun meninggalkan ketidakpastian di wilayah sengketa tersebut.
Sejak 1991, MINURSO ditugaskan mengawasi gencatan senjata dan menyiapkan referendum kemerdekaan. Namun, AS mengusulkan perubahan mandat dengan menghapus kata 'referendum' dan menjadikan otonomi di bawah kedaulatan Maroko sebagai satu-satunya dasar perundingan. Rusia menolak usulan itu karena dianggap memihak satu pihak dan mendahului penentuan kedaulatan. Sebaliknya, usulan Rusia untuk memperpanjang mandat tanpa perubahan juga gagal meraih suara cukup.
Kegagalan perpanjangan ini membuat 155 personel militer dan anggaran misi senilai 62 juta dolar AS harus berhenti beroperasi. Maroko menyambut baik keputusan tersebut dan meminta personel PBB segera meninggalkan wilayah. Sementara itu, Front Polisario yang didukung Aljazair tetap menuntut kemerdekaan. Bagi masyarakat internasional, berakhirnya misi ini menjadi sinyal bahwa penyelesaian konflik 50 tahun tersebut semakin jauh dari kata sepakat, dan stabilitas kawasan Afrika Utara berpotensi terganggu.