Paus Leo XIV mencatat sejarah baru sebagai pemimpin tertinggi Vatikan pertama yang menggunakan hak pilihnya dalam pemilihan umum Amerika Serikat. Paus kelahiran Chicago ini resmi mengirimkan surat suara via pos untuk pemilu sela (midterm) di Illinois, sebuah langkah yang langsung menuai sorotan politik di Negeri Paman Sam.
Langkah ini bukan sekadar formalitas. Vatikan menegaskan bahwa Paus Leo XIV hanya menjalankan hak dan kewajiban sebagai warga negara AS, sesuai dengan ajaran gereja tentang partisipasi dalam proses demokrasi. Namun, momen ini menjadi menarik karena hubungan antara Paus dan Presiden Donald Trump sedang memanas.
Ketegangan keduanya memuncak setelah Paus menyerukan perdamaian terkait serangan AS-Israel ke Iran. Trump pun sempat melontarkan kritik pedas, menyebut Paus tidak melakukan pekerjaan dengan baik dan mengaku bukan penggemar beratnya. Paus Leo XIV merespons dengan tenang, menegaskan bahwa misi gereja adalah memberitakan Injil dan perdamaian.
Pemilu sela AS sendiri menjadi ajang penentu kendali Kongres. Partai Demokrat saat ini diunggulkan untuk merebut kursi mayoritas di DPR, sementara Partai Republik tengah berjuang keras mempertahankan posisinya. Suara Paus Leo XIV, meski hanya satu, menjadi simbol bahwa bahkan pemimpin spiritual tertinggi pun tak ragu turun ke gelanggang demokrasi.