Addis Ababa - Ketegangan di Tanduk Afrika kembali memanas. Ethiopia secara resmi menuduh Eritrea melakukan 'invasi habis-habisan' ke wilayah Tigray, utara Ethiopia. Dalam surat resmi yang dikirim ke Dewan Keamanan PBB, Menteri Luar Negeri Ethiopia, Gedion Timothewos, menyebut tindakan Eritrea sebagai 'agresi terang-terangan' yang memaksa Ethiopia menggunakan hak bela diri. Ethiopia mengklaim pasukan Eritrea telah maju hingga 60 kilometer ke dalam wilayah Tigray.
Konflik ini merupakan babak baru dari permusuhan panjang kedua negara. Sebelumnya, Eritrea adalah sekutu Ethiopia saat perang saudara melawan TPLF (Tigray People's Liberation Front). Namun, hubungan memburuk drastis, diduga kuat karena ambisi Perdana Menteri Ethiopia, Abiy Ahmed, yang ingin menguasai salah satu pelabuhan Laut Merah milik Eritrea. Puncaknya, hubungan diplomatik resmi diputus pekan lalu.
Militer Ethiopia dilaporkan melancarkan serangan drone ke posisi pasukan Eritrea di kota Adigrat. Saksi mata menyebut banyak serangan udara terjadi, menghancurkan truk-truk militer Eritrea, dan memaksa pasukan Eritrea mundur ke utara. Sementara itu, Menteri Informasi Eritrea, Yemane Gebremeskel, membantah tuduhan tersebut. Ia balik menuduh Ethiopia yang melancarkan 'perang agresi tanpa provokasi' dan berusaha melakukan pergantian rezim di Eritrea dengan mendukung kelompok oposisi.
Analisis Dampak: Eskalasi ini sangat berbahaya bagi stabilitas kawasan Tanduk Afrika. Jika konflik terbuka meletus, jutaan warga sipil di Tigray yang baru pulih dari perang saudara 2020-2022 terancam mengalami krisis kemanusiaan baru. Selain itu, keterlibatan Eritrea dapat menyeret negara-negara tetangga lain seperti Sudan dan Djibouti, mengingat posisi strategis Laut Merah. Dunia internasional, terutama AS dan Uni Afrika, dituntut segera melakukan intervensi diplomatik sebelum perang skala penuh pecah.