Presiden AS Donald Trump mengumumkan pembatalan serangan besar-besaran ke Iran yang semula direncanakan akhir pekan ini. Sebagai gantinya, negosiasi baru akan dimulai pada Senin (16/6) waktu setempat. Trump menyebut Iran dan sekutu AS di Timur Tengah memintanya menunda serangan karena kesepakatan sudah di depan mata.
Dalam pernyataannya di atas pesawat kepresidenan Air Force One, Trump mengaku siap melancarkan serangan terbesar sejak Perang Dunia II. Namun, ia menahan diri karena ada peluang damai. "Mereka tahu skala serangan karena melihat persiapannya. Kami berbicara dalam bentuk negosiasi. Dimulai besok sore," ujar Trump.
Ia juga menyebut Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman serta mitra AS seperti UEA dan Qatar mendesaknya untuk tidak menyerang. Menurut Trump, ada kesepakatan yang tengah dirancang terkait Selat Hormuz dan program nuklir Iran.
Namun, klaim Trump langsung dibantah Iran. Kantor berita semi-resmi Mehr menyebut pernyataan Trump sebagai "kebohongan baru". Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi justru menegaskan negosiasi dengan Oman soal Selat Hormuz "sedang dalam tahap finalisasi".
Pengumuman ini langsung berdampak ke pasar energi. Harga minyak mentah Brent turun 4,5% ke US$83,98 per barel, sementara minyak AS turun 4,6% ke US$80,74. Sejak konflik dimulai 28 Februari, harga minyak berfluktuasi karena gangguan pengiriman di Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20% minyak mentah dan LNG dunia.