Kota Mekelle di Ethiopia mulai bersemi kembali setelah pasukan federal merebut wilayah itu pada 4 Oktober. Toko-toko kembali beroperasi dan bank-bank mulai melayani nasabah. Namun, di balik aktivitas yang tampak normal, warga masih diliputi kecemasan akan masa depan yang tak pasti.
Pertempuran baru antara pasukan federal Ethiopia dan sekutu melawan kekuatan lokal kembali memicu kekhawatiran bahwa pemulihan rapuh di Tigray bisa kembali hancur. Wilayah ini belum pulih sepenuhnya dari perang 2020-2022 yang menghancurkan sendi-sendi kehidupan masyarakat.
Masalah utama yang membelit warga adalah krisis keuangan. Gaji pegawai negeri sipil tak kunjung dibayarkan. Pemerintah interim Tigray bahkan mengumumkan tak mampu membayar gaji 137.000 pegawai negeri sejak Maret lalu akibat dana dari pemerintah pusat yang tak kunjung cair. Defisit anggaran mencapai 8,5 miliar birr (sekitar Rp 20 triliun) membuat proyek pembangunan dan kesejahteraan terhambat.
"Toko memang buka, tapi bukan berarti masalah kami selesai. Pengeluaran tetap ada setiap hari, sementara gaji tak turun," ujar Gebregziabher, seorang pegawai negeri di Mekelle, menggambarkan kesulitannya memenuhi kebutuhan pokok.
Dampak paling pahit dirasakan dunia pendidikan. Para siswa kembali dihantui ancaman putus sekolah akibat konflik berkepanjangan. Shewit, siswa kelas 10 di Adigrat, mengaku cemas kehilangan waktu belajar lagi. "Saya sudah kehilangan banyak waktu karena perang. Saya takut jika pendidikan terganggu lagi, saya akan kehilangan satu tahun lagi," keluhnya.
Sebagian mahasiswa memilih meninggalkan Tigray menuju Addis Ababa untuk mencari transfer ke universitas lain. Kementerian Pendidikan Ethiopia mencatat lebih dari 5.000 mahasiswa mengajukan permohonan penempatan sementara di universitas luar wilayah Tigray hingga pertengahan September. Langkah ini diambil sebagai respons atas kekhawatiran keberlangsungan studi di tengah situasi keamanan yang tak menentu.
Bagi masyarakat luas, kondisi ini menjadi pengingat bahwa gencatan senjata dan pembukaan kembali layanan publik belum cukup menjamin kesejahteraan. Tanpa stabilitas keamanan dan pemulihan ekonomi yang nyata, warga Tigray masih terjebak dalam ketidakpastian panjang yang mengancam masa depan generasi muda.