Dunia sepak bola Iran sedang geger! Salah satu bintang andalannya, Sardar Azmoun, kini terancam absen di Piala Dunia setelah namanya dicoret dari Tim Nasional. Bukan karena cedera, melainkan gara-gara sebuah unggahan foto di Instagram yang dianggap sebagai tindakan ketidaksetiaan terhadap pemerintah. Insiden ini sontak memicu perdebatan sengit di tengah memanasnya tensi politik kawasan.
Kabar mengejutkan datang dari kubu Tim Melli, julukan Timnas Iran. Sardar Azmoun, striker yang kini bermain untuk klub Shabab Al-Ahli di Uni Emirat Arab (UAE), dikabarkan didepak dari skuad inti. Penyerang berusia 31 tahun yang sudah mencetak 57 gol dalam 91 pertandingan internasional ini, sangat mungkin tak akan ikut rombongan ke Piala Dunia mendatang.
Penyebabnya sepele tapi sensitif: Azmoun mengunggah foto dirinya sedang bertemu dengan penguasa Dubai, Mohammed bin Rashid Al Maktoum, di akun Instagram pribadinya. Postingan itu langsung jadi sorotan otoritas Iran. Meski Azmoun belakangan menghapus foto tersebut, nasi sudah menjadi bubur. Media Iran, seperti Fars News Agency yang punya koneksi ke Garda Revolusi Islam, mengutip sumber internal timnas yang mengonfirmasi pencoretannya.
Situasi ini memang sangat rawan. Iran diketahui baru saja melancarkan serangan rudal dan drone ke UAE. Serangan itu merupakan balasan atas serangan udara yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel, yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Di tengah ketegangan geopolitik yang meruncing ini, unggahan Azmoun dianggap sebagai bentuk pembangkangan atau setidaknya, ketidakpekaan politis yang fatal.
"Sangat disayangkan, Anda tidak punya cukup akal untuk memahami perilaku macam apa yang pantas pada waktu tertentu," kritik pengamat sepak bola Mohammad Misaghi di televisi pemerintah. "Kita tidak boleh ragu-ragu dengan orang-orang seperti itu. Mereka harus diberi tahu bahwa mereka tidak layak mengenakan jersey tim nasional." Misaghi juga menambahkan bahwa pemain timnas seharusnya bangga menyanyikan lagu kebangsaan.
Tak hanya dipecat, laporan dari Novad News bahkan menyebutkan bahwa aset Azmoun, bersama dua pemain lain yang berbasis di UAE, Mehdi Ghayedi, dan mantan pemain internasional Soroush Rafiei, akan disita. Konfederasi Sepak Bola Republik Islam Iran (FFIRI) sendiri belum memberikan tanggapan resmi terkait insiden ini.
Kasus Azmoun bukan yang pertama. Sebelumnya, timnas wanita Iran juga dicap "pengkhianat perang" di TV pemerintah karena tidak menyanyikan lagu kebangsaan saat kembali dari Australia. Tujuh anggota delegasi bahkan mencari suaka di Australia. Peristiwa-peristiwa ini menunjukkan betapa ketatnya tuntutan loyalitas dari pemerintah Iran, bahkan dalam ranah olahraga.
Bagi sepak bola Iran, absennya Azmoun adalah kerugian besar. Ia adalah salah satu pemain paling dikenal dan berpengaruh. Kekosongan ini tentu akan melemahkan Timnas Iran yang partisipasinya di Piala Dunia nanti sudah "di bawah awan" karena konflik dengan AS sebagai salah satu tuan rumah. Kasus ini menjadi pengingat pahit bahwa di Iran, politik bisa dengan mudah menyeret olahraga dan karier atlet ke dalam pusarannya.