Siapa sangka, di tengah gempuran konten digital yang makin canggih dan filterisasi sempurna, banyak netizen justru rindu masa-masa media sosial di tahun 2016? Pertanyaan besar ini menjadi sorotan, memicu nostalgia akan era selfie buram dan filter telinga anjing yang sederhana.
Fenomena ini bukan sekadar kilas balik biasa, melainkan sebuah pencarian akan sesuatu yang hilang. Banyak warganet mengungkapkan kerinduan pada konten-konten yang terasa lebih 'apa adanya', seperti foto selfie yang tak perlu diedit berlebihan, filter-filter lucu nan sederhana seperti telinga anjing, hingga film-film lama yang populer.
Bahkan, satu hal yang paling sering disebut adalah minimnya campur tangan kecerdasan buatan (AI) dalam produksi konten kala itu. Bandingkan dengan sekarang, di mana konten generatif AI mulai membanjiri lini masa, memunculkan pertanyaan tentang batas antara realitas dan ilusi.
Dalam sebuah episode The Stream yang mengupas fenomena ini, strategi media sosial Joel Marlinarson dan teoritikus kritis Louisa Munch mencoba menjawab. Mereka sepakat bahwa kerinduan ini mungkin bukan melulu tentang tahun 2016 itu sendiri, melainkan lebih dalam lagi: hasrat untuk koneksi yang lebih otentik dan ekspresi diri yang jujur di dunia maya.
Media sosial di tahun 2016 bisa dibilang berada di persimpangan jalan. Belum sepenuhnya dikuasai algoritma kompleks dan tekanan 'kesempurnaan' ala influencer seperti sekarang, namun sudah mulai mengakomodasi berbagai cara berekspresi. Itu adalah masa transisi, di mana platform terasa lebih personal, bukan sekadar etalase citra yang dipoles. Kehadiran AI yang makin masif belakangan ini justru makin memperkuat keinginan publik untuk mencari 'kebenaran' dan 'keterhubungan' yang genuine. Ini bukan hanya tentang filter kuno, tapi tentang kejenuhan terhadap 'kepalsuan' yang makin merajalela, serta tekanan untuk selalu tampil sempurna yang bisa memicu masalah kesehatan mental.
Maka, ketika kita merindukan 2016, sebenarnya kita sedang merindukan sebuah era di mana interaksi di media sosial terasa lebih jujur, lebih bebas dari tuntutan visual yang berlebihan, dan pada akhirnya, lebih manusiawi. Sebuah pengingat bahwa di balik segala kemajuan teknologi, yang dicari manusia tetaplah keaslian dan koneksi yang berarti.