PEMILU UGANDA: INTERNET MATI, MASA DEPAN NEGARA DI UJUNG JURANG - Berita Dunia
← Kembali

PEMILU UGANDA: INTERNET MATI, MASA DEPAN NEGARA DI UJUNG JURANG

Foto Berita

Uganda tengah menjadi sorotan dunia. Negara di Afrika Timur itu baru saja menggelar pemilihan umum (pemilu) pada Kamis, 14 Januari, di tengah suasana yang sangat tegang. Bagaimana tidak, akses internet mendadak dimatikan, aparat keamanan berjaga ketat di mana-mana, dan kekhawatiran akan kekerasan politik mencuat ke permukaan.

Pemilu ini diprediksi akan memperpanjang kekuasaan Presiden Yoweri Museveni yang sudah berkuasa empat dekade. Namun, ia mendapat tantangan sengit dari Bobi Wine, seorang bintang pop yang beralih menjadi politikus. Pertarungan antara dua figur ini membuat masa depan Uganda, dengan lebih dari 21,6 juta pemilih terdaftar, berada di ujung tanduk.

Kontroversi sudah dimulai sejak Selasa malam, ketika badan regulasi pemerintah Uganda memerintahkan operator jaringan seluler untuk memblokir akses internet publik. Komisi Komunikasi Uganda beralasan langkah ini diperlukan untuk mencegah 'misinformasi, disinformasi, kecurangan pemilu, dan risiko terkait lainnya'. Namun, banyak pihak melihatnya sebagai upaya membungkam suara oposisi.

Saat TPS dibuka, situasinya cukup lambat, sebuah pemandangan yang biasa di Uganda. Tapi, para jurnalis AFP melaporkan proses pemungutan suara mulai berjalan tak lama setelah pukul 07.00 pagi waktu setempat di setidaknya satu daerah pinggiran kota Kampala. Sementara itu, di kota perbatasan Jinja, patroli polisi dan tentara terlihat sangat masif, menambah kesan mencekam.

Kantor Hak Asasi Manusia PBB (UN Human Rights Office) tak tinggal diam. Mereka menegaskan bahwa 'akses terbuka terhadap komunikasi dan informasi adalah kunci bagi pemilu yang bebas dan jujur'. PBB juga sebelumnya memperingatkan akan adanya 'penindasan dan intimidasi yang meluas' terhadap oposisi, pembela HAM, jurnalis, dan mereka yang berbeda pandangan. Bobi Wine bahkan menyebut pemilu ini sebagai 'perang' dan menuduh Museveni sebagai 'diktator militer' yang berencana memanipulasi hasil serta menteror rakyat.

Pemerintahan Museveni, yang kini berusia 81 tahun, telah lama dituduh menindas para pengkritiknya, termasuk menangkap pemimpin oposisi dan pendukung mereka selama bertahun-tahun. Kampanye Bobi Wine pun kerap diganggu oleh aparat. Ratusan pendukungnya ditangkap menjelang pemilu, mirip seperti saat kampanye tahun 2021. Bobi Wine bahkan terlihat memakai jaket anti-peluru di beberapa acara kampanyenya.

Bagi sebagian besar warga Uganda, terutama kaum muda, isu pengangguran menjadi perhatian utama. Sebanyak 70 persen penduduk Uganda berusia di bawah 35 tahun, dan banyak pemilih pemula merasa isu ini belum tertangani serius. Kondisi ini membuat surat kabar lokal Daily Monitor bahkan sampai menerbitkan halaman penuh panduan 'mengamankan rumah dari pemilu', menyarankan warga untuk memperkuat pintu dan jendela serta menyiapkan 'ruangan aman' jika terjadi kerusuhan.

Dengan semua ketegangan yang ada, mata dunia kini tertuju pada Uganda. Hasil sebagian pemilu diperkirakan akan dirilis pada Kamis malam waktu setempat, dan kita akan melihat apakah pemilu ini benar-benar bisa mencerminkan aspirasi rakyat atau justru semakin memperdalam polarisasi politik di negara tersebut.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook