Swiss menggelar referendum yang digagas Partai Rakyat Swiss (SVP) untuk membatasi jumlah penduduk maksimal 10 juta jiwa. Langkah ini bertujuan merespons kekhawatiran publik terhadap tekanan imigrasi pada layanan publik, perumahan, dan infrastruktur. Jika disetujui, pemerintah Swiss harus membatasi suaka, izin tinggal, dan bisa membatalkan perjanjian bebas gerak dengan Uni Eropa (EU).
Proyeksi resmi menunjukkan populasi Swiss bisa mencapai 10 juta pada awal 2040-an, lebih cepat dari target 2050 yang diusulkan. Hasil jajak pendapat terbaru dari lembaga gfs.bern memperkirakan persaingan ketat. SVP menyebut inisiatif ini sebagai 'langkah keberlanjutan' karena pertumbuhan demografi telah membebani sumber daya alam dan cara hidup warga Swiss.
Pemerintah federal dan parlemen menentang gagasan ini. Kritikus memperingatkan bahwa pembatasan populasi bisa mengganggu hubungan dengan EU, mitra dagang utama Swiss. Data OECD (2024) mencatat 32% penduduk Swiss lahir di luar negeri, tertinggi ketiga di antara negara anggota OECD. Imigran Eropa mendominasi, berbeda dengan tren anti-imigran global yang lebih menyasar warga dari negara Selatan.
Sejak perjanjian bebas gerak dengan EU berlaku pada 2002, populasi Swiss naik 23% menjadi 9,1 juta jiwa. Namun, output ekonomi juga tumbuh 24% di periode yang sama. Beberapa politisi SVP, seperti Heinz Taennler, mengakui inisiatif ini bukan untuk mengakhiri kebebasan bergerak, melainkan sebagai 'alarm' agar pemerintah lebih serius mengelola imigrasi.