Pasukan pemerintah Suriah kini resmi menguasai kota Hasakah, sebuah wilayah strategis di timur laut Suriah. Kota yang sebelumnya berada di bawah kendali Pasukan Demokratik Suriah (SDF) pimpinan Kurdi ini diserahkan bukan lewat pertempuran sengit, melainkan berkat kesepakatan gencatan senjata antara kedua belah pihak. Reporter Al Jazeera, Teresa Bo, bahkan menyaksikan langsung pergerakan pasukan Suriah masuk ke kota tersebut.
Langkah ini tentu bukan sekadar perpindahan kekuasaan biasa. Bagi pemerintah Presiden Bashar al-Assad, pengambilalihan Hasakah adalah kemenangan signifikan. Ini menunjukkan Damaskus terus berupaya mengonsolidasikan kendalinya atas wilayah-wilayah kunci yang sempat tercerai-berai akibat perang saudara berkepanjangan.
Di sisi lain, bagi SDF dan komunitas Kurdi, penarikan diri dari Hasakah memicu banyak pertanyaan. Apakah ini adalah penyesuaian taktis demi menghindari konflik yang lebih besar, atau justru sinyal bahwa ambisi mereka untuk membangun entitas semi-otonom di Suriah utara semakin sulit diwujudkan? Hasakah sendiri merupakan ibu kota salah satu provinsi yang cukup penting, dengan potensi sumber daya dan pertanian yang strategis.
Pergeseran kendali di Hasakah ini juga akan berdampak pada dinamika regional. Turki, yang selama ini memandang SDF sebagai ancaman teroris, mungkin akan mengamati perkembangan ini dengan seksama. Sementara itu, peran Amerika Serikat yang sempat mendukung SDF dalam perang melawan ISIS, kini juga patut dicermati. Meski kesepakatan gencatan senjata mampu mencegah pertumpahan darah lebih lanjut di Hasakah, pertanyaan besar tetap menggantung: apakah konsolidasi kekuasaan pemerintah pusat ini akan membawa stabilitas sejati bagi Suriah, atau justru menyimpan potensi konflik baru di masa depan?