Jakarta - Elon Musk kembali membuat geger dunia bisnis. Sang miliarder mengungkapkan bahwa dua perusahaan terbesarnya, SpaceX dan Tesla, tengah menjajaki kemungkinan merger (penggabungan) yang berpotensi menciptakan raksasa korporasi bernilai lebih dari USD 3 triliun atau sekitar Rp 46.500 triliun (asumsi kurs Rp 15.500).
Dalam pernyataannya pada Selasa (waktu setempat), Musk menyebut kedua perusahaan telah membentuk komite khusus untuk mengeksplorasi rencana tersebut. Menurutnya, ide ini memiliki 'nilai plus' karena adanya keterkaitan erat di bidang kecerdasan buatan (AI). Meski begitu, ia menegaskan belum ada kesepakatan final dan semuanya masih harus melalui persetujuan pemegang saham.
"Mereka harus merumuskan sesuatu, dan itu harus diajukan kepada pemegang saham untuk diputuskan," ujar Musk dalam panggilan pendapatan SpaceX, dikutip dari Al Jazeera.
Musk, yang saat ini dinobatkan sebagai orang terkaya di dunia dengan kekayaan lebih dari USD 900 miliar, menegaskan bahwa merger ini harus melewati 'rintangan tinggi' berupa suara 50 persen dari pemegang saham Tesla. Ia juga menampik anggapan bahwa merger ini adalah kepastian, meski ia pribadi menilainya sebagai ide bagus.
Jika terealisasi, penggabungan SpaceX dan Tesla akan menjadi merger korporasi terbesar dalam sejarah, jauh melampaui valuasi gabungan SpaceX dan xAI pada Februari lalu yang mencapai USD 1,25 triliun. Saat ini, SpaceX dan Tesla masing-masing menduduki peringkat ke-7 dan ke-11 perusahaan terbesar di dunia dengan kapitalisasi pasar gabungan sekitar USD 3,5 triliun.
Analisis Dampak: Langkah ini didasari oleh logika bisnis yang kuat. Pakar M&A dari University of California, Riverside, Jerayr Haleblian, menilai kedua perusahaan memiliki keahlian inti yang sama, yakni manufaktur canggih, robotika, AI, dan infrastruktur energi. Sinergi ini berpotensi mempercepat inovasi teknologi yang bisa berdampak luas bagi masyarakat, mulai dari kendaraan otonom hingga eksplorasi antariksa yang lebih efisien. Namun, bagi publik, merger raksasa ini juga memicu kekhawatiran terkait dominasi pasar dan potensi monopoli teknologi di masa depan.
Kabar ini langsung disambut positif oleh pasar. Saham SpaceX yang baru melantai di bursa pada Juni lalu (IPO terbesar sepanjang sejarah) melonjak lebih dari 8 persen, sementara saham Tesla naik 1,8 persen. Kinerja keuangan SpaceX juga ikut membaik dengan mencetak laba kuartalan pertama sebesar USD 4,4 miliar pada kuartal III, berbalik dari kerugian tahun sebelumnya.