Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy kini mendesak adanya jadwal pasti untuk putaran negosiasi damai dengan Rusia. Tuntutan ini muncul di tengah ketegangan geopolitik yang memanas, khususnya setelah konflik antara AS-Israel dengan Iran yang membuat upaya diplomatik mengakhiri perang di Ukraina sempat terhenti.
Zelenskyy, dalam keterangannya kepada media, menegaskan Kyiv menginginkan "tanggal yang jelas, setidaknya perkiraan" untuk kelanjutan perundingan. Ia mengakui, "situasi di Timur Tengah, perang di sana, memang memengaruhi penundaan tanggal ini." Delegasi Ukraina sendiri dijadwalkan bakal bertemu di Amerika Serikat pada hari Sabtu (waktu setempat) untuk membahas upaya yang dimediasi AS guna mencapai kesepakatan akhir perang yang sudah berlangsung lebih dari empat tahun ini.
Sebelumnya, berbagai putaran negosiasi antara Kyiv dan Moskow di Jenewa maupun Abu Dhabi selalu menemui jalan buntu. Poin krusial yang selalu menjadi ganjalan adalah masalah teritorial, di mana Rusia menuntut Ukraina menyerahkan 20 persen wilayah Donetsk timur yang belum berhasil direbut pasukan Rusia. Tentu saja, Kyiv menolak keras tuntutan ini dan sebaliknya meminta jaminan keamanan yang kuat dari sekutu-sekutu Barat mereka untuk mencegah agresi Rusia di masa mendatang, jika kesepakatan damai tercapai.
Meski terhambat, sinyal positif datang dari AS yang menyatakan kesiapan untuk melanjutkan format negosiasi yang ada. Seorang pejabat senior Kremlin juga mengindikasikan bahwa putaran baru negosiasi yang dimediasi AS kemungkinan akan segera terjadi, menyebut "jeda ini bersifat sementara." Namun, situasi Timur Tengah bukan hanya mengalihkan perhatian, melainkan juga memicu kekhawatiran baru. Sekutu-sekutu Eropa Ukraina memang telah meyakinkan Kyiv bahwa fokus mereka tetap pada upaya menekan Rusia, seperti yang disampaikan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer.
Yang menarik dan berpotensi berdampak negatif bagi Ukraina adalah keputusan pemerintahan Presiden AS Donald Trump yang mencabut sanksi terhadap sejumlah pasokan minyak Rusia. Langkah ini diambil untuk menyeimbangkan melonjaknya biaya energi global yang terkait dengan konflik Iran. Zelenskyy secara eksplisit menyebut keputusan melonggarkan sanksi sektor energi Rusia itu sebagai hal yang "berbahaya" dan akan menjadi salah satu topik pembahasan utama delegasi Ukraina dalam pertemuan di AS. Pencabutan sanksi ini dikhawatirkan dapat memberikan angin segar bagi ekonomi Rusia, yang pada gilirannya bisa memperkuat posisi Moskow dalam perundingan atau bahkan memperpanjang kemampuan mereka untuk berperang. Ini menunjukkan bagaimana konflik di satu belahan dunia bisa merembet dan secara tak langsung memengaruhi dinamika konflik di belahan dunia lain, menciptakan dilema baru bagi para pemain utama.