DAMPAK RUSIA HANCURKAN KATEDRAL BERNILAI SEJARAH DI KYIV - Berita Dunia
← Kembali

DAMPAK RUSIA HANCURKAN KATEDRAL BERNILAI SEJARAH DI KYIV

Foto Berita

KYIV, UKRAINA – Rusia kembali melancarkan serangan rudal dan drone besar-besaran ke sejumlah kota di Ukraina pada Senin (17/3) dini hari. Serangan ini menghantam Kyiv, Kharkiv, dan kota-kota lain, menewaskan sedikitnya sembilan orang dan memadamkan listrik bagi 140.000 rumah tangga.

Puncak serangan terjadi ketika sebuah drone bunuh diri Rusia menghantam langsung atap Katedral Dormition, bagian dari kompleks biara bersejarah Kyiv-Pechersk Lavra yang masuk dalam daftar warisan dunia UNESCO. Kebakaran hebat melalap area seluas 800 meter persegi di katedral yang dibangun pada abad ke-11 itu.

Maksym Ostapenko, direktur jenderal cagar budaya Kyiv-Pechersk Lavra, mengonfirmasi bahwa drone tersebut menghantam langsung atap katedral. Beruntung, para biarawan dan petugas penyelamat berhasil mengevakuasi ikon-ikon dan benda-benda liturgi tak ternilai sebelum api membesar.

Serangan ini bukan hanya soal korban jiwa. Ini pukulan telak bagi warisan budaya Ukraina. Selain katedral, serangan juga menghancurkan gudang kostum utama Studio Film Nasional Oleksandr Dovzhenko, meludeskan koleksi 100.000 kostum yang tak tergantikan.

Metropolitan Epiphanius I, pemimpin Gereja Ortodoks Ukraina, mengecam aksi ini sebagai 'kejahatan terhadap kemanusiaan, terhadap sejarah, dan terhadap Kekristenan'. Wakil Perdana Menteri Yulia Svyrydenko menambahkan bahwa kehancuran ini memperlihatkan 'wajah asli dari nilai-nilai Ortodoks Rusia'.

Analisis Dampak: Serangan ini menandai eskalasi baru dalam perang Rusia-Ukraina. Target yang menyasar simbol keagamaan dan warisan budaya menunjukkan strategi Moskow untuk menghancurkan identitas nasional Ukraina. Ini memicu kecaman internasional lebih luas dan memperkuat sentimen perlawanan Ukraina. Di sisi lain, serangan brutal ini terjadi di tengah komunikasi telepon antara Presiden Zelenskyy dan Putin dengan Presiden AS Donald Trump, mengindikasikan bahwa diplomasi belum mampu menghentikan kekerasan di lapangan.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook