Konflik bersenjata yang kembali memanas di Yaman telah menimbulkan dampak devastatif bagi dunia pendidikan. Data terbaru dari UNICEF mengungkapkan lebih dari 137.000 siswa kehilangan akses belajar akibat ratusan sekolah terpaksa ditutup di wilayah konflik. Gelombang kekerasan baru antara pasukan pro-pemerintah dan Houthi yang intensif sejak Agustus lalu juga memicu perpindahan lebih dari 150.000 orang, menambah beban krisis kemanusiaan yang sudah berlangsung sejak 2014.
Kisah pilu datang dari Ahmed, bocah 12 tahun asal Desa al-Ashroh, Taiz. Ia kini bertahan hidup di kamp pengungsian Wadi Bani Khawlan bersama keluarganya. Tas sekolahnya tertinggal di rumah saat mereka melarikan diri dari pertempuran. "Saya tidak tahu apakah saya akan membawa tas itu lagi dan kembali ke kelas," ujarnya. Di kamp pengungsian, tidak ada fasilitas pendidikan. Bahkan jika ia kembali ke desanya, sekolahnya juga tutup.
Mohammed Radman, koordinator pengungsian di Distrik Jabal Habashi, menjelaskan situasi getir ini. Semua sekolah di dekat garis depan pertempuran tutup. Sekolah yang masih beroperasi pun sudah kepenuhan dan tidak bisa menampung siswa pengungsi. Fokus keluarga kini bergeser total dari pendidikan ke kebutuhan dasar seperti tenda, makanan, dan air.
Analisis Dampak: Krisis ini menciptakan "generasi yang hilang" di Yaman. Anak-anak yang putus sekolah berisiko tinggi mengalami trauma jangka panjang, direkrut kelompok bersenjata, atau terjebak dalam kemiskinan ekstrem. Hilangnya akses pendidikan tidak hanya merugikan individu, tetapi juga menghancurkan fondasi pemulihan bangsa di masa depan. Tanpa intervensi internasional yang masif, Yaman akan menghadapi krisis sumber daya manusia yang berkepanjangan bahkan setelah konflik berakhir.