Harare, Zimbabwe – Parlemen Zimbabwe, tepatnya Majelis Rendah (National Assembly), baru saja mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) kontroversial yang memperpanjang masa jabatan presiden dari lima tahun menjadi tujuh tahun. Langkah ini membuka jalan bagi Presiden Emmerson Mnangagwa yang berusia 83 tahun untuk tetap berkuasa hingga tahun 2030.
Dalam pemungutan suara pada Kamis lalu, sebanyak 216 anggota parlemen mendukung RUU tersebut, melampaui batas minimal 187 suara yang dibutuhkan untuk mencapai mayoritas dua pertiga. Amandemen konstitusi ini tidak hanya memperpanjang masa jabatan, tetapi juga menunda pemilu yang sedianya digelar pada 2028 menjadi 2030.
Yang lebih krusial, RUU ini juga mengusulkan perubahan mekanisme pemilihan presiden. Jika sebelumnya presiden dipilih langsung oleh rakyat melalui suara populer, ke depan presiden akan dipilih oleh anggota parlemen. RUU ini kini akan dibawa ke Senat, dan dipastikan akan lolos karena partai berkuasa ZANU-PF pimpinan Mnangagwa menguasai mayoritas kursi di lembaga tinggi negara tersebut melalui perwakilan kepala suku tradisional dan para pendukung setianya.
Isu perpanjangan masa jabatan ini sebenarnya sudah mencuat sejak dua tahun lalu. Saat itu, para pendukung Mnangagwa mulai meneriakkan yel-yel di berbagai acara partai bahwa presiden mereka membutuhkan waktu lebih untuk menyelesaikan agenda pembangunannya. Kabinet pun telah menyetujui rencana ini pada Februari tahun lalu.
Kritik keras datang dari kalangan aktivis dan oposisi. Mereka menilai RUU ini hanyalah dalih agar Mnangagwa bisa terus bercokol di kursi kekuasaan. Namun, pihak pendukung berdalih bahwa kebijakan ini akan memperkuat akuntabilitas dan stabilitas politik negara.
Analisis Dampak: Langkah Zimbabwe ini bukanlah kasus isolasi. Fenomena 'presiden seumur hidup' menjadi tren mengkhawatirkan di Afrika. Zimbabwe kini bergabung dengan negara-negara seperti Kamerun di mana Paul Biya (93 tahun) telah berkuasa sejak 1982, atau Equatorial Guinea dengan Teodoro Obiang Nguema Mbasogo yang telah memimpin selama 47 tahun. Di Pantai Gading, Alassane Ouattara (84 tahun) baru saja dilantik untuk periode keempat, sementara Yoweri Museveni (81 tahun) masih berkuasa di Uganda. Para kritikus menyebut tren ini sebagai ancaman serius bagi demokrasi di benua yang memiliki populasi termuda di dunia, namun dipimpin oleh para pemimpin tertua.