Balendra Shah, atau akrab disapa Balen, eks Wali Kota Kathmandu yang juga dikenal sebagai rapper populer, kini membuat gebrakan baru di panggung politik Nepal. Setelah mengejutkan banyak pihak dengan kemenangannya sebagai wali kota independen pada tahun 2022, Balen terang-terangan membidik posisi puncak: Perdana Menteri Nepal.
Langkahnya ini bukan tanpa tantangan. Ia memilih untuk bertarung di pemilihan parlemen daerah pemilihan Jhapa-5, melawan mantan Perdana Menteri KP Sharma Oli. Padahal, daerah tersebut dikenal sebagai basis kuat Oli dan partainya, Partai Komunis Nepal ā Unified Marxist Leninist (CPN-UML). Ini adalah pertarungan David melawan Goliath di mana Balen, yang maju dari Partai Rastriya Swatantra (RSP) yang baru berusia kurang dari empat tahun, mencoba menggulingkan tokoh politik kawakan.
Kiprah Balen di kancah politik sebenarnya sudah jadi sorotan sejak lama. Sebelum jadi wali kota, ia adalah rapper yang mendadak sensasional pada tahun 2013. Popularitasnya makin meroket setelah ia secara vokal mendukung demonstrasi besar-besaran yang menggulingkan PM Oli tahun lalu. Ia bahkan sempat menjadi pilihan utama aktivis Gen Z untuk memimpin pemerintahan transisi, meski akhirnya memilih mendukung mantan Ketua Mahkamah Agung Sushila Karkiāsebuah langkah yang kini diyakini sebagai taktik cerdas.
Gaya komunikasi Balen yang blak-blakan, bahkan kadang kontroversialāsempat melontarkan kritik keras ke partai mapan hingga negara-negara besarāmemang memicu pro dan kontra. Namun, bagi banyak warga Nepal, terutama kaum muda, Balen adalah angin segar di tengah pimpinan partai besar yang didominasi politisi berusia 70-an, sementara lebih dari 40% penduduk Nepal berusia di bawah 35 tahun. Mereka melihatnya sebagai pemimpin yang berani mengambil keputusan, tidak terikat kepentingan lama, dan siap menghadapi jaringan patronase politik yang mengakar. Kemenangannya di Kathmandu sudah membuktikan bahwa ia mampu menepis keraguan para pengamat. Akankah kejutan serupa terulang di pemilihan Perdana Menteri?