Kabar mengejutkan datang dari pasar saham Asia-Pasifik. Indeks-indeks utama rontok tajam hari Senin ini, dipicu ultimatum Presiden AS Donald Trump terhadap Iran terkait Selat Hormuz. Situasi ini bukan hanya mengguncang bursa, tapi juga memantik kekhawatiran krisis energi global yang berpotensi memukul perekonomian dunia.
Bursa saham Jepang (Nikkei 225) dan Korea Selatan (KOSPI) anjlok masing-masing 4 persen dan 4,5 persen pada pembukaan perdagangan. Tak ketinggalan, Indeks Hang Seng Hong Kong tumbang sekitar 2 persen, disusul ASX 200 Australia yang merosot 1,6 persen, dan NZX 50 di Selandia Baru yang terkoreksi 1,3 persen. Gejolak serupa juga terasa di pasar berjangka Wall Street, meski dengan kerugian moderat.
Penyebab utama gejolak ini adalah ancaman keras Trump yang dilontarkan pada Sabtu lalu. Ia mengultimatum Iran untuk segera membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital bagi seperlima ekspor minyak dan gas global, atau menghadapi 'pemusnahan' infrastruktur energinya dalam 48 jam. Tenggat waktu ultimatum ini diperkirakan habis Senin malam pukul 23:44 GMT.
Respons Iran tak kalah menantang. Teheran bersumpah akan menutup total jalur perairan tersebut dan melancarkan serangan balasan ke fasilitas energi dan air di seluruh kawasan jika Trump benar-benar merealisasikan ancamannya. Saat ini, beberapa kapal berbendera Tiongkok, India, dan Pakistan masih terpantau melintas.
Ketegangan ini memperparah krisis energi global yang sudah membayangi, mengingat perang AS dan Israel terhadap Iran telah berlangsung hampir sebulan tanpa tanda-tanda mereda. Sejak perang dimulai 28 Februari lalu, harga minyak dunia melonjak lebih dari 50 persen. Minyak Brent, patokan internasional, sempat menembus 114 dolar AS per barel sebelum sedikit turun ke 112 dolar AS. Analis memperingatkan, harga minyak bisa melambung hingga 150 bahkan 200 dolar AS per barel jika Selat Hormuz benar-benar tertutup.
Menanggapi situasi krusial ini, Trump sempat berdiskusi via telepon dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer pada Minggu. Keduanya sepakat, pembukaan Selat Hormuz mutlak diperlukan demi stabilitas pasar energi global.
Meski demikian, pernyataan Trump cukup membingungkan. Beberapa jam sebelum ultimatum, ia sempat mengatakan bahwa administrasinya 'sangat dekat dengan tujuan kami saat kami mempertimbangkan penghentian' operasi militer. Namun, juru bicara militer Israel Letnan Kolonel Nadav Shoshani pekan lalu justru menyatakan Israel punya rencana detail perang setidaknya untuk tiga minggu ke depan. Inkonsistensi ini menambah ketidakpastian.
Dampak bagi masyarakat global bukan main-main. Kenaikan harga minyak secara drastis akan memicu inflasi di berbagai sektor, mulai dari transportasi, logistik, hingga harga kebutuhan pokok. Konsumen dan bisnis di seluruh dunia akan merasakan pukulan langsung, berpotensi menyeret ekonomi global ke jurang resesi. Kestabilan politik dan keamanan di Timur Tengah, yang merupakan jantung pasokan energi dunia, kini berada di ujung tanduk.