Harga minyak mentah global melesat tinggi, membawa berkah tak terduga bagi Rusia. Di tengah gejolak geopolitik yang memanas, negara beruang merah ini sukses meraup untung besar dari ekspor energi. Namun, ancaman serius kini membayangi: akankah kapasitas pasokan energi Rusia mampu bertahan di tengah serangan Ukraina dan kebutuhan domestik yang mendesak?
Pemicu utama kenaikan harga energi ini tak lain adalah gangguan di Selat Hormuz, jalur pelayaran krusial yang vital bagi pasar minyak dunia. Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran secara tidak langsung telah mendongkrak harga minyak, sebuah skenario yang menguntungkan Rusia sebagai salah satu produsen minyak terbesar ketiga dunia. Kebijakan Washington yang memberikan pengecualian sanksi juga turut memuluskan jalan Moskow untuk memperbanyak pundi-pundinya.
Meski demikian, senyum Rusia berpotensi pudar. Rencana anggaran negara itu terancam amburadul setelah Ukraina gencar menyerang pelabuhan dan kilang minyak Rusia. Serangan bertubi-tubi ini jelas memukul kapasitas produksi dan distribusi energi Moskow. Demi menjamin ketersediaan bahan bakar di dalam negeri, Rusia bahkan telah mengeluarkan larangan ekspor bensin.
Situasi ini memunculkan pertanyaan besar bagi pasar energi global: Mampukah Rusia tetap menjadi penopang pasokan energi dunia di tengah ancaman internal dan konflik yang tak kunjung usai, ataukah kapasitasnya justru sedang di ambang krisis? Dunia tengah menanti jawaban, sementara gejolak harga energi diprediksi masih akan berlanjut, berpotensi memicu ketidakstabilan pasokan dan harga di berbagai negara.