RAFIAH: KEMAH KONTROL CANGGIH, BUKAN KEDAMAIAN GAZA? - Berita Dunia
← Kembali

RAFIAH: KEMAH KONTROL CANGGIH, BUKAN KEDAMAIAN GAZA?

Foto Berita

Ini adalah realita yang tak banyak disorot, padahal harapan akan perdamaian kembali berembus setelah ditemukannya jasad tawanan terakhir Israel dan rencana pembukaan sebagian perlintasan Rafah dengan Mesir. Menurut Jenderal (Purn) Israel Amir Avivi, seorang penasihat militer, Israel telah meratakan lahan seluas 1,3 kilometer persegi di Rafah, area yang sebelumnya memang sudah porak-poranda akibat perang genosida mereka. Tujuannya? Untuk membangun "kamp besar terorganisir" demi memperkuat kontrol militer Israel di Gaza untuk jangka panjang.

Avivi, kepada kantor berita Reuters, Selasa lalu, menjelaskan bahwa fasilitas ini mampu menampung ratusan ribu orang. Lebih lanjut, ia menyebut kamp ini akan dilengkapi sistem pemeriksaan identitas, termasuk teknologi pengenal wajah, yang bertujuan untuk melacak setiap warga Palestina yang masuk atau keluar. Klaim Avivi ini diperkuat oleh analisis eksklusif Tim Investigasi Digital Al Jazeera. Citra satelit yang diambil sejak 2 Desember hingga Senin pekan lalu menunjukkan operasi perataan lahan yang masif di Rafah barat.

Lokasi zona yang diratakan itu strategis, berdekatan dengan dua pos militer Israel, mengindikasikan bahwa kamp baru ini akan berada di bawah pengawasan militer langsung dan ketat. Temuan satelit ini senada dengan laporan yang menyebut fasilitas ini berfungsi sebagai "area penampungan" yang terkontrol ketat, bukan sekadar tempat berlindung kemanusiaan.

Bagi para analis di Gaza, infrastruktur berteknologi tinggi yang diproyeksikan ini sama sekali tidak memiliki niat kemanusiaan. Sebaliknya, mereka melihatnya sebagai "jebakan" bagi warga Palestina. Wissam Afifa, seorang analis politik yang berbasis di Gaza, bahkan menyamakannya dengan "mekanisme penyortiran manusia yang mengingatkan pada titik seleksi era Nazi." Ia menilai, ini adalah alat penyaringan rasial dan kelanjutan genosida dengan cara lain.

Pembukaan kembali perlintasan Rafah, yang dijadwalkan sementara pada Kamis ini menurut The Jerusalem Post, juga datang dengan syarat ketat dari Israel. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bersikeras atas "kontrol keamanan" penuh. Bagi warga Palestina yang berharap kembali ke Gaza, ini berarti harus tunduk pada apa yang Afifa sebut "stasiun penyortiran manusia". Afifa menekankan, mekanisme ini dirancang untuk menghalangi kepulangan. Warga Palestina akan menghadapi interogasi, penghinaan, dan risiko penangkapan di pos pemeriksaan yang dikelola Israel ini hanya untuk kembali ke rumah mereka. Dengan memanfaatkan teknologi pengenal wajah yang dikonfirmasi Avivi, Israel menciptakan cobaan berisiko tinggi bagi para pengungsi yang ingin pulang. Afifa berpendapat, ini akan memaksa banyak warga Palestina memilih pengasingan.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook