SAO PAULO - Warga Brasil baru saja menuntaskan pencoblosan dalam pemilihan umum yang menegangkan. Lebih dari 158 juta pemilih antre panjang sejak pagi untuk menentukan arah baru negara itu selama lima tahun ke depan.
Pertarungan utama kembali mempertemukan Presiden petahana Luiz Inácio Lula da Silva dengan penantangnya, Flávio Bolsonaro. Lula, yang telah mencoblos, langsung menyerukan bahwa pemilu kali ini adalah pertarungan antara demokrasi dan barbarisme. Sementara itu, Bolsonaro bersumpah ingin membebaskan rakyat Brasil dari kebijakan yang dianggapnya mengekang.
Hasil hitung cepat sementara menunjukkan persaingan yang sangat ketat. Selisih suara antara Lula dan Bolsonaro hanya terpaut dua poin. Karena tidak ada kandidat yang diprediksi meraih suara di atas 50 persen, pemilu ini hampir dipastikan akan berlanjut ke babak kedua atau run-off pada 25 Oktober mendatang.
Yang menarik, hasil dari luar negeri menunjukkan pola yang terbelah. Di China dan Korea Selatan, Lula unggul telak. Namun, di Israel dan Jepang, Bolsonaro justru mendominasi perolehan suara. Situasi ini mencerminkan polarisasi tajam yang tidak hanya terjadi di dalam negeri, tetapi juga di kalangan diaspora Brasil.
Pemilu kali ini juga menjadi referendum atas warisan politik Jair Bolsonaro, ayah dari Flávio, yang kini mendekam di penjara karena kasus kudeta. Selain memilih presiden, warga Brasil juga memilih anggota Senat yang akan menentukan komposisi parlemen hingga 2027.