Sepuluh tahun setelah kepergiannya, legenda tinju dunia Muhammad Ali kembali mengingatkan kita pada satu pesan abadi: 'Melayani sesama adalah sewa yang kita bayar untuk tempat kita di Bumi.' Pesan itu tertulis dalam sebuah surat yang menyertai lukisan cat air karyanya sendiri yang menggambarkan markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York. Lukisan itu ia hadiahkan secara pribadi kepada pejabat PBB pada 1978 sebagai 'hadiah perdamaian'.
Karya sederhana namun penuh makna itu kini tergantung di lorong kantor PBB. Bagi para staf yang melintas setiap hari, lukisan tersebut bukan sekadar pajangan, melainkan pengingat akan keberanian dan keyakinan Ali bahwa perdamaian adalah tanggung jawab pribadi setiap manusia. Ia pernah menolak bertugas dalam Perang Vietnam dan menjadi sasaran kebencian karena vokal menentang rasisme. Namun, ia tidak pernah menyerah.
Analisis: Di tengah konflik global yang memanas, perang di Ukraina dan Gaza, serta ancaman teknologi yang tak terkendali, pesan Ali justru terasa semakin relevan. Ia mengajarkan bahwa perdamaian membutuhkan keberanianābukan hanya keberanian petarung, tetapi juga keberanian seorang pembawa perdamaian. PBB sebagai institusi yang mewakili 'keluarga bangsa-bangsa yang cacat' terus berjuang mewujudkan cita-cita bersama, persis seperti yang digambarkan Ali dalam lukisannya yang rendah hati namun penuh harapan.