Paris, Kompas.com - Petenis nomor satu dunia, Aryna Sabalenka, mengalami kekalahan dramatis di perempat final Prancis Terbuka. Unggulan teratas ini kalah dari petenis non-unggulan asal Rusia, Diana Shnaider, dengan skor 3-6, 7-5, 6-0, Rabu (5/6) waktu setempat.
Yang membuat peristiwa ini mengejutkan adalah bagaimana Sabalenka kehilangan kendali setelah unggul satu set dan dua kali break di set kedua. Ia sempat unggul 4-1 dan hanya berjarak dua poin dari kemenangan saat memimpin 5-4. Namun, petenis Belarusia itu kehilangan 12 dari 13 game terakhir dan tampil penuh frustrasi.
“Saya hanya ingin berhenti bermain tenis sekarang,” ujar Sabalenka dalam konferensi pers usai pertandingan. “Mungkin saya akan menghabiskan seharian di ruangan untuk menghancurkan barang-barang. Mungkin itu akan membantu, mungkin tidak.”
Kekalahan ini mengingatkan pada final tahun lalu saat ia kalah dari Coco Gauff setelah memenangkan set pertama. Pola yang sama terulang: kesalahan-kesalahan sendiri yang tidak perlu. Di sisi lain, Shnaider yang baru pertama kali tampil di perempat final Grand Slam bermain sangat tenang dan fokus.
“Saya hanya mencoba fokus poin demi poin, tidak memikirkan skor,” kata Shnaider, yang selanjutnya akan berhadapan dengan Maja Chwalinska.
Analisis Dampak: Kekalahan ini membuka peluang bagi petenis lain untuk merebut posisi nomor satu dunia. Secara psikologis, pernyataan Sabalenka yang ingin berhenti menunjukkan tekanan luar biasa yang dihadapi atlet papan atas. Ini bisa menjadi alarm bagi timnya untuk segera melakukan pemulihan mental sebelum turnamen berikutnya, terutama Wimbledon yang akan datang.