KRISIS OBAT DI SUDAN: PASIEN TERPAKSA OBAT SELUNDUPAN BERACUN - Berita Dunia
← Kembali

KRISIS OBAT DI SUDAN: PASIEN TERPAKSA OBAT SELUNDUPAN BERACUN

Foto Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Perang saudara yang berkecamuk di Sudan selama lebih dari tiga tahun kini memicu krisis kemanusiaan yang mengerikan di sektor kesehatan. Pasien, terutama penderita diabetes dan malaria, terpaksa bergantung pada obat-obatan selundupan yang dijual mahal dan seringkali sudah rusak atau kadaluwarsa.

Murtada Mohieddin, seorang pasien diabetes berusia 50-an di Khartoum Utara, harus menghitung sisa insulinnya dengan cemas. Ia tak pernah tahu apakah obat yang dibelinya masih layak pakai atau sudah rusak akibat penyimpanan buruk. 'Kadang insulinnya sudah basi. Kamu bisa cek tanggal kedaluwarsa, tapi mungkin sudah rusak karena penyimpanan yang buruk,' keluhnya kepada Al Jazeera.

Pertempuran antara Tentara Sudan (SAF) dan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) telah menewaskan lebih dari 50.000 orang dan membuat 14 juta warga mengungsi. Lebih parahnya lagi, konflik ini melumpuhkan seluruh produksi farmasi lokal dan rantai pasok obat-obatan vital.

Menurut pernyataan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada April 2026, Sudan kini menjadi krisis kemanusiaan terbesar di dunia. Dari 34 juta orang yang membutuhkan bantuan, 21 juta di antaranya tidak memiliki akses ke layanan kesehatan dasar.

Di tengah kekosongan ini, jaringan penyelundupan obat bius justru berkembang subur. Peredaran obat ilegal yang disebut 'Boko' membanjiri pasar. Obat-obatan ini, termasuk obat malaria intravena, diselundupkan tanpa melalui kontrol suhu dan kualitas yang ketat. Akibatnya, banyak obat yang sudah rusak dan berbahaya.

Mutawakil Hamza, apoteker di Omdurman, menegaskan bahwa obat-obatan ilegal ini sangat berbahaya. 'Kebanyakan obat malaria sekarang dibawa melalui penyelundupan. Ini adalah suntikan untuk penggunaan intravena, dan ini sangat berbahaya bagi kesehatan pasien,' ujarnya. Suntikan yang tidak steril bisa menyebabkan infeksi aliran darah parah, syok sistemik, atau kematian.

Analisis Dampak: Krisis ini menunjukkan bagaimana perang tidak hanya merenggut nyawa lewat kekerasan, tetapi juga lewat runtuhnya sistem kesehatan. Pasien yang selamat dari bom justru terancam oleh obat palsu dan beracun. Situasi ini menjadi pengingat betapa rapuhnya kemandirian farmasi suatu negara saat konflik berkepanjangan.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook