BEIRUT, LEBNAN — Hezbollah dilaporkan menerima suntikan dana segar senilai 200 juta dolar AS (sekitar Rp3,2 triliun) dari Iran. Dana ini langsung dipakai kelompok tersebut untuk mengguyur keluarga korban perang yang kehilangan rumah akibat konflik dengan Israel.
Langkah ini bukan sekadar aksi sosial. Bagi pengamat, distribusi bantuan pada 13 Oktober lalu itu menjadi tamparan keras bagi pemerintah Lebanon yang tengah berusaha menekan pengaruh Hezbollah. Apalagi, pemerintah baru saja menyita ratusan kilogram bahan peledak yang dikaitkan dengan kelompok tersebut.
Anggota Parlemen Hezbollah, Hassan Fadlallah, tidak tinggal diam. Ia menuntut barang bukti itu dikembalikan dan meminta mereka yang ditahan segera dibebaskan. Ia menegaskan bahwa stok bahan peledak tersebut milik poros perlawanan melawan Israel.
Ketua Dewan Eksekutif Hezbollah, Ali Damoush, menegaskan pihaknya akan terus menopang hidup para pendukungnya yang berada di garis depan. Menurutnya, bantuan ini adalah tanggung jawab moral dan agama untuk menjaga martabat warga yang terdampak, terutama mereka yang rumahnya hancur total.
Di sisi lain, Amerika Serikat meragukan Iran mampu mengirim uang sebesar itu mengingat tekanan ekonomi yang mencekik. Namun, Nicholas Blanford dari Atlantic Council menilai dana ini sangat membantu Hezbollah untuk menenangkan basis massa Syiah mereka yang lelah dengan perang. Situasi ini diprediksi membuat pemerintah Lebanon semakin terjepit di antara tekanan AS dan realitas sosial di lapangan.