Kabar gembira datang bagi jutaan pekerja di Brazil. Kongres negara itu baru saja mengesahkan amendemen konstitusi yang memangkas jam kerja mingguan dari 44 jam menjadi 40 jam, lengkap dengan libur dua hari dalam sepekan tanpa potongan gaji. Kebijakan ini menjadi perubahan terbesar dalam hak-hak pekerja sejak Brazil kembali ke sistem demokrasi pada 1988.
Dilansir dari laporan internasional, langkah ini disahkan Senat dengan perolehan suara telak, yaitu 75 banding 1, setelah sebelumnya lolos di Dewan Perwakilan Rakyat pada Mei lalu. Perubahan aturan ini diproyeksikan menyentuh lebih dari 30 juta pekerja dan langsung menuai dukungan luas, termasuk dari serikat pekerja yang menggelar aksi unjuk rasa.
Menariknya, momen pengesahan ini terjadi kurang dari dua pekan sebelum putaran kedua pemilihan presiden. Presiden petahana dari kubu kiri, Luiz Inácio Lula da Silva, yang getol mendorong aturan ini, berharap keputusan tersebut bisa mendongkrak elektabilitasnya melawan rivalnya dari kubu kanan, Flávio Bolsonaro. Putra mantan Presiden Jair Bolsonaro itu sebelumnya menentang keras kebijakan ini, namun berbalik arah dan ikut memberikan suara setuju setelah melihat tingginya dukungan publik.
Lula menyambut baik pengesahan ini sebagai kemenangan nyata bagi kelas pekerja. Menurutnya, kebijakan ini memberikan ruang lebih bagi masyarakat untuk beristirahat, berkumpul dengan keluarga, dan menikmati hidup. Meski begitu, para kritikus memperingatkan potensi kenaikan biaya produksi yang bisa memicu inflasi dan kenaikan harga barang. Sebagai kompromi, aturan ini akan diterapkan secara bertahap, dimulai dengan pemangkasan menjadi 42 jam setelah masa tenggang dua bulan, sebelum akhirnya resmi menjadi 40 jam.