Gelombang protes mahasiswa yang awalnya pecah di Prancis sejak September 2025 kini merembet ke sejumlah negara Eropa. Bukan lagi soal kelas yang penuh sesak atau kekurangan guru, kemarahan generasi muda kini meluas ke isu biaya hidup yang mencekik dan pemotongan anggaran layanan publik.
Aksi serupa terjadi di Albania, Belgia, Yunani, Italia, Portugal, dan Spanyol. Massa turun ke jalan menuntut harga rumah yang terjangkau, biaya kebutuhan pokok yang stabil, serta layanan publik yang tidak dibiarkan ambruk. Banyak anak muda kini pesimistis: mereka merasa tak akan lagi hidup lebih sejahtera dibanding orang tua mereka.
Data Eurostat yang diolah Al Jazeera membuktikan keresahan itu. Sejak tahun 2000 hingga 2026, harga barang dan jasa sehari-hari di empat negara (Prancis, Italia, Spanyol, Portugal) melonjak antara 59 hingga 78 persen. Spanyol mencatat kenaikan tertinggi (78 persen), disusul Portugal (71 persen), Italia (68 persen), dan Prancis (59 persen). Artinya, barang yang dulu seharga 100 euro kini setara 178 euro di Spanyol.
Pemicu utama lonjakan tajam terjadi pada 2022, saat inflasi tahunan menembus 8,7 persen di Italia dan 8,3 persen di Spanyol. Invasi Rusia ke Ukraina membuat harga energi meroket hampir 42 persen di zona euro. Masalahnya, upah tidak ikut naik secepat harga. Alhasil, meski inflasi mulai mereda, daya beli masyarakat tetap tertekan karena harga tidak pernah kembali ke level lama.
Menariknya, para pemimpin yang kini menjadi sasaran amuk—Macron (Prancis), Meloni (Italia), Sanchez (Spanyol), dan Montenegro (Portugal)—berasal dari spektrum politik berbeda. Namun semuanya menghadapi problem sama: rakyat kecil makin sulit bertahan hidup. Ini menjadi sinyal bahwa isu ekonomi telah melampaui sekat ideologi politik.