Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, kembali menjadi yang teratas dalam jajak pendapat informal (straw poll) di Konferensi Aksi Politik Konservatif (CPAC) 2026. Hasil ini menempatkannya di posisi terdepan sebagai kandidat potensial untuk mewakili Partai Republik dalam pemilihan presiden 2028 mendatang. Meski demikian, nama Sekretaris Negara Marco Rubio juga mencuri perhatian dengan lonjakan dukungan signifikan.
Dalam jajak pendapat yang diikuti hampir 1.600 peserta di salah satu pertemuan sayap kanan terbesar AS ini, Vance berhasil meraup 53 persen suara. Angka ini menjadikannya favorit kuat di kalangan konservatif. Namun, yang menarik adalah peningkatan drastis popularitas Marco Rubio, diplomat utama di bawah Presiden Donald Trump. Mantan senator Florida itu berhasil mengumpulkan 35 persen suara, melonjak jauh dari posisi empat besar yang diraihnya tahun lalu.
Jajak pendapat CPAC, meski seringkali menjadi indikator awal yang menarik, dikenal condong ke arah sayap kanan ekstrem dan belum tentu mencerminkan pandangan pemilih Republik secara keseluruhan. Ini penting dicermati, mengingat CPAC adalah ajang para loyalis berat. Oleh karena itu, hasil ini lebih menunjukkan preferensi basis konservatif garis keras ketimbang pandangan umum partai.
Hasil ini muncul di tengah periode krusial bagi Partai Republik. Kurang dari delapan bulan lagi menuju pemilihan sela (midterm elections) pada November, di mana Republik berjuang mempertahankan mayoritas di Kongres. Sementara itu, popularitas Presiden Donald Trump sendiri sedang menurun drastis. Sebuah survei Reuters/Ipsos baru-baru ini menunjukkan hanya 36 persen warga AS yang menyetujui kinerjanya, level terendah baru.
Berbagai faktor membebani popularitas Trump, termasuk perang yang sedang berlangsung di Iran dan frustrasi ekonomi, seperti kenaikan harga bensin yang terkait konflik tersebut. Mengingat hukum AS membatasi presiden menjabat maksimal dua periode, masa jabatan kedua Trump akan berakhir pada 2028, membuka persaingan sengit untuk menggantikannya. Vance, yang dikenal mewakili pandangan isolasionis dari basis 'Make America Great Again' (MAGA) Trump, terlihat siap mengambil alih tongkat estafet. Sementara Rubio, dengan pengalaman diplomatiknya, menawarkan alternatif yang juga kuat dan mungkin lebih menarik bagi pemilih moderat, menunjukkan dinamika menarik dalam perebutan kepemimpinan Republik pasca-Trump.