Warner Bros Discovery (WBD) semakin memantapkan langkahnya untuk bersekutu dengan raksasa streaming Netflix. Perusahaan media yang membawahi franchise besar seperti Game of Thrones dan Harry Potter ini baru saja menolak tawaran akuisisi terbaru dari Paramount Skydance senilai $30 per saham.
Meski begitu, pintu belum sepenuhnya tertutup. WBD memberikan waktu tujuh hari kepada Paramount, induk dari CBS News, untuk mengajukan penawaran yang mereka sebut sebagai 'terbaik dan terakhir'. Kabarnya, Paramount berencana menaikkan tawaran hingga $31 per saham. Namun, dewan direksi WBD lewat pernyataan Chairman Samuel DiPiazza Jr dan CEO David Zaslav, menegaskan bahwa proposal Paramount 'tidak mungkin menghasilkan transaksi yang lebih unggul dari merger Netflix'.
Komitmen WBD terhadap Netflix tampaknya tak tergoyahkan. Para pemegang saham WBD sendiri dijadwalkan akan memberikan suara terkait merger dengan Netflix pada 20 Maret mendatang. Netflix pun menyambut positif perkembangan ini, menyebut kesepakatan itu telah mencapai tonggak penting.
Namun, di balik pertarungan sengit para raksasa media ini, tersimpan isu pelik terkait dugaan intervensi politik. Baik kesepakatan WBD-Netflix maupun tawaran WBD-Paramount, keduanya menghadapi rintangan signifikan dari regulator di Washington D.C. Kekhawatiran akan konsolidasi industri media dan dampaknya pada konsumen menjadi sorotan serius.
Yang menarik, tawaran akuisisi Paramount Skydance disinyalir memiliki kaitan dengan janji CEO David Ellison kepada mantan Presiden AS Donald Trump. Ellison diduga menjanjikan 'perubahan besar' pada CNN, saluran berita milik Warner Bros Discovery yang selama ini kerap dikritik Trump. Di sisi lain, CBS News yang berada di bawah naungan Paramount, juga dituding telah mengambil langkah-langkah yang dinilai sebagai upaya menyenangkan administrasi Trump, termasuk menunjuk tokoh konservatif tanpa pengalaman TV dan menyelesaikan gugatan hukum dengan Trump.
Kondisi ini menambah kerumitan dalam saga merger dan akuisisi di industri media, menunjukkan bahwa keputusan korporat besar seringkali tak lepas dari intrik politik dan kepentingan yang lebih luas.