Ketegangan di Lebanon kembali memanas. Warga di wilayah selatan mulai bersiap menghadapi kemungkinan eskalasi militer baru dari Israel, yang disebut-sebut sebagai intensifikasi ketiga sejak 2024. Meski gencatan senjata sempat diumumkan April lalu, suara drone dan ledakan masih terdengar nyaris setiap hari.
Seorang warga Abbasiyeh, Aya, mengaku keluarganya sudah menyiapkan obat-obatan ekstra untuk kakek-neneknya, tas darurat, stok makanan, hingga memastikan perangkat elektronik selalu terisi daya. Ia bahkan mempertimbangkan meninggalkan Lebanon karena tak sanggup lagi menghadapi potensi pengungsian baru. "Saya tidak punya energi lagi untuk ini," ujarnya, seperti dikutip Al Jazeera.
Konflik Hezbollah-Israel sendiri sudah berlangsung sejak Oktober 2023. Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat sekitar 9.000 orang tewas, mayoritas pada eskalasi musim gugur 2024 serta Maret-April 2026. Israel bahkan sempat menduduki wilayah hingga 10 kilometer ke dalam Lebanon dan menetapkan apa yang disebut "Garis Kuning" — di bawah garis itu, desa dan permukiman terus dihancurkan hingga tak layak huni.
Gencatan senjata April sempat meredakan pertempuran aktif, disusul kesepakatan kerangka kerja yang dimediasi AS pada Juni untuk membentuk "zona percontohan" — militer Israel mundur, tentara Lebanon masuk dan melucuti Hezbollah. Namun kekhawatiran kembali muncul setelah Presiden AS Donald Trump dikabarkan mempertimbangkan serangan baru ke Iran bersama Israel.
Analisis dampak: Bagi masyarakat Lebanon, ketidakpastian ini memicu kelelahan mental kolektif dan potensi gelombang pengungsian baru. Warga di atas Garis Kuning relatif aman dari tembakan langsung, tetapi tetap kesulitan mengakses lahan dan hidup dengan suara perang setiap hari. Sementara itu, bagi publik Indonesia, eskalasi di Timur Tengah berpotensi mengerek harga minyak dunia dan mengganggu rantai pasok global — layak dicermati karena Indonesia masih net importir minyak.