Raksasa e-commerce Amazon kembali menjadi sorotan setelah mengumumkan gelombang kedua pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang menargetkan 16.000 karyawannya. Keputusan drastis ini, yang terjadi hanya berselang tiga bulan dari PHK sebelumnya, memicu pertanyaan besar: apakah kecerdasan buatan (AI) kini mulai menggantikan peran manusia dalam dunia kerja?
Total, Amazon telah memangkas sekitar 30.000 posisi korporat dalam beberapa bulan terakhir, mencakup karyawan di divisi Prime Video, Amazon Web Services (AWS), hingga departemen Sumber Daya Manusia. Restrukturisasi perusahaan dan dorongan untuk mencapai efisiensi maksimal menjadi alasan utama di balik langkah ini, seiring dengan investasi besar Amazon pada teknologi AI.
CEO Amazon, Andy Jassy, bahkan secara terbuka menyatakan harapannya bahwa pemanfaatan AI secara luas akan mengurangi kebutuhan tenaga kerja korporat secara keseluruhan. Namun, Amazon menyatakan akan memberikan dukungan transisi bagi karyawan yang terdampak. Mereka yang di AS akan memiliki waktu 90 hari untuk mencari posisi lain di perusahaan atau menerima paket pesangon, layanan penempatan kerja, dan tunjangan kesehatan yang relevan.
Langkah Amazon tidak berhenti di PHK. Perusahaan juga mengumumkan penutupan lebih dari 70 toko fisik Amazon Go dan Amazon Fresh di seluruh AS, dengan beberapa di antaranya akan diubah menjadi lokasi Whole Foods Market, supermarket yang telah diakuisisi Amazon sejak 2017. Ini menunjukkan pergeseran fokus Amazon dari ritel fisik ke strategi yang lebih terintegrasi dan efisien.
Fenomena PHK akibat AI ini bukan hanya terjadi di Amazon. Sektor teknologi secara umum menghadapi gelombang redundansi serupa. Pinterest memangkas 780 pekerjaan dan Autodesk sekitar 1.000, keduanya juga mengaitkan langkah tersebut dengan realokasi sumber daya dan investasi AI. Menurut data Layoffs.fyi, lebih dari 123.000 pekerja teknologi telah kehilangan pekerjaan di tahun 2023 karena perusahaan-perusahaan seperti Salesforce dan Duolingo menggandakan investasi mereka di AI.
Efek domino dari keputusan Amazon bahkan menjalar ke sektor lain. Perusahaan logistik raksasa, UPS, juga mengumumkan pemangkasan 30.000 pekerjaan dan penutupan 24 fasilitasnya. Salah satu alasan utamanya adalah penurunan volume pengiriman yang berkaitan dengan Amazon. Gelombang PHK massal ini menggarisbawahi perubahan fundamental dalam lanskap pekerjaan. AI, yang semula dianggap sebagai alat bantu, kini menjadi pendorong utama efisiensi yang berujung pada pengurangan tenaga kerja. Ini menciptakan tantangan besar bagi ribuan individu dan memaksa kita untuk merenungkan masa depan pekerjaan di era digital.