Pertemuan antara Utusan Khusus Presiden AS, Steve Witkoff, dan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, di Oslo, Norwegia, menjadi sorotan. Meski keduanya sempat berpelukan hangat di depan kamera, sinyalemen keretakan hubungan yang lebih dalam antara Washington dan Kyiv justru semakin terasa. Zelensky mengunggah momen tersebut di media sosial dengan pesan optimis, 'Ukraina bekerja untuk perdamaian,' namun realita di lapangan menunjukkan hal sebaliknya.
Dalam sepuluh hari terakhir, tensi antara kedua negara meningkat tajam. Presiden AS Donald Trump secara terbuka melontarkan kritik pedas terhadap Zelensky, menyebutnya 'bukan orang baik untuk berurusan' dan menuduhnya tidak tahu apa yang dibicarakan. Serangan verbal ini muncul setelah Zelensky mengkritik kesepakatan diesel AS-Rusia yang dianggapnya salah langkah. Sikap Trump yang keras ini mengingatkan publik pada gaya diplomasinya yang sering berubah-ubah, seperti yang terjadi pada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Di sisi lain, Zelensky mulai menunjukkan kekecewaan yang lebih terbuka. Ia menyinggung soal 'keputusan dari pihak Amerika yang sulit dijelaskan di antara teman' dan kekhawatiran bahwa dukungan militer AS mulai melambat. Meski begitu, Zelensky tetap berusaha menahan diri dan menegaskan bahwa Ukraina menyambut baik setiap upaya untuk mengakhiri perang dengan bermartabat.
Analisis Dampak: Ketegangan ini bisa berdampak signifikan bagi stabilitas keamanan global. Jika AS benar-benar mengurangi dukungan intelijen dan militernya, Ukraina akan berada dalam posisi yang sangat rentan menghadapi agresi Rusia. Bagi masyarakat Indonesia, ketidakpastian ini dapat memengaruhi harga komoditas global seperti gandum dan energi, serta memperlambat pemulihan ekonomi pasca-pandemi. Selain itu, melemahnya aliansi Barat dapat mengubah peta kekuatan geopolitik yang berimbas pada stabilitas kawasan Asia Pasifik.