BEMBOU SILATY, GUINEA – Negeri dengan cadangan bauksit terbesar di dunia ini menyimpan ironi pahit. Di satu sisi, Guinea menjadi rebutan raksasa tambang global karena batuannya adalah bahan baku utama aluminium—logam vital untuk mobil, pesawat, hingga panel surya. Namun di sisi lain, warga desa seperti di Bembou Silaty justru hidup tanpa listrik dan kehilangan ladang akibat aktivitas perusahaan tambang asing.
Mamadou Aliou (38), seorang aktivis lingkungan yang juga bekerja di perusahaan tambang, menggambarkan dilema ini. 'Sebelum perusahaan datang, kami bisa bercocok tanam dan hidup layak. Sekarang lahan kami diambil, air tercemar, dan hasil pertanian merosot drastis,' ujarnya kepada Al Jazeera.
Data menunjukkan, 75 persen bauksit Guinea dalam satu dekade terakhir dikirim ke China yang menguasai 60 persen produksi aluminium global. Perusahaan dari Rusia, AS, hingga Uni Emirat Arab juga ikut berebut. Namun, ironisnya, desa-desa di wilayah tambang seperti Bembou Silaty masih gelap gulita, tanpa mekanisasi pertanian, dan warga hanya bisa bekerja serabutan dengan upah maksimal 300 dolar AS per bulan.
Analis ekonomi menilai, fenomena ini adalah 'kutukan sumber daya alam' klasik. 'Guinea terjebak dalam siklus ekspor bahan mentah tanpa nilai tambah. Pemerintah harus memaksa investor membangun pabrik pengolahan dalam negeri, seperti yang dilakukan Indonesia untuk nikel,' ujar Dr. Fajar Nugraha, ekonom sumber daya alam dari Universitas Indonesia. Tanpa itu, kata dia, kekayaan alam hanya akan menguntungkan segelintir pihak dan meninggalkan rakyat dalam kemiskinan.