Khan Younis, Gaza — Tujuh mahasiswa Gaza, termasuk empat calon dokter dan dua calon dokter gigi, memilih berjualan es krim di tepi pantai Khan Younis untuk membiayai kuliah mereka. Mereka membuka kedai bernama Flora di jalur Al-Rashid, al-Mawasi, sejak Maret lalu sebagai satu-satunya cara agar tetap bisa berkuliah di tengah perang yang meluluhlantakkan sistem pendidikan Gaza.
Jihad al-Saqa, mahasiswa kedokteran tahun kedua di Al-Azhar University, mengaku sempat putus asa mencari kerja. Rumah dan lahannya hancur akibat serangan udara Israel. Pekerjaan yang ia temukan biasanya bergaji rendah dan memakan waktu 12 jam, tidak cocok dengan jadwal kuliahnya. Kini, ia bekerja 7 jam per shift malam di Flora. "Dua bulan berjalan, saya bahagia dan mampu menyeimbangkan kuliah dan kerja, meski capek fisik dan mental," katanya kepada Al Jazeera.
Uang hasil jualan es krim ini dipakai untuk membayar uang kuliah dan membantu keluarga. Mereka melayani pelanggan dengan sistem digital karena uang tunai nyaris hilang di Gaza. Pelanggan setia bahkan menjuluki mereka 'si kutu buku'—julukan yang mereka banggakan.
Analisis Dampak: Kisah ini menjadi potret kelam pendidikan di Gaza. Data 2025 menunjukkan 95% kampus rusak atau hancur, dan 88.000 mahasiswa terpaksa berhenti kuliah sejak Oktober 2023. Namun, semangat para mahasiswa ini membuktikan bahwa mimpi tidak bisa dihancurkan oleh bom. Mereka tidak hanya berjuang untuk nilai, tapi untuk bertahan hidup dan masa depan.