SURIAH MEMANAS: ANCAMAN GANDA UJI PEMERINTAH BARU - Berita Dunia
← Kembali

SURIAH MEMANAS: ANCAMAN GANDA UJI PEMERINTAH BARU

Foto Berita

Situasi keamanan di Suriah kembali memanas setelah terjadi serangkaian serangan mematikan di dua wilayah berbeda, yakni Provinsi Latakia di bagian barat dan Deir Az Zor di timur. Konflik terbaru ini menimbulkan pertanyaan besar tentang stabilitas pemerintahan transisi yang baru berkuasa.

Di Latakia, bentrokan sengit pecah pada hari Selasa antara pasukan keamanan internal Suriah dengan kelompok milisi misterius bernama Saraya al-Jawad. Grup ini diduga kuat punya kaitan dengan sisa-sisa rezim sebelumnya. Insiden di desa Hamam al-Qarahleh, wilayah pedesaan Jableh ini, menewaskan sedikitnya empat orang, termasuk satu anggota pasukan keamanan dan seorang komandan milisi bersama dua anak buahnya.

Saraya al-Jawad bukanlah nama baru. Mereka disebut-sebut sebagai kekuatan baru pemberontakan terorganisir di jantung wilayah pesisir yang notabene adalah basis keluarga al-Assad. Milisi ini bahkan kabarnya setia pada Suheil al-Hassan, seorang brigadir jenderal yang pernah memimpin 'Tiger Forces', unit elit di tentara rezim lama. Kementerian Dalam Negeri menuding kelompok ini berada di balik serangkaian aksi destabilisasi, mulai dari pembunuhan, pengeboman, hingga penargetan acara publik.

Di saat yang sama, wilayah timur Suriah juga dihantam gelombang kekerasan. Kelompok teroris ISIL (ISIS) mengklaim bertanggung jawab atas beberapa serangan terhadap pos-pos keamanan di Provinsi Deir Az Zor pada Senin lalu. Ini memperparah kerentanan negara yang baru pulih dari perang saudara bertahun-tahun.

Menteri Dalam Negeri Anas Khattab langsung angkat bicara, menghubungkan kedua insiden ini. Ia menuduh 'sisa-sisa rezim sebelumnya dan ISIL' berusaha mengganggu keamanan serta menghalangi keberhasilan pemerintahan transisi yang mulai berjalan sejak Desember 2024. Situasi ini menunjukkan bahwa upaya pemerintah untuk membongkar 'sel-sel negara dalam' (deep state) yang bersenjata masih menghadapi tantangan berat.

Para analis keamanan, seperti Brigadir Jenderal Munir al-Hariri dari Amman, melihat ada kejanggalan di balik munculnya kembali kelompok-kelompok ini secara bersamaan. Al-Hariri curiga ada campur tangan pihak eksternal, bahkan secara spesifik menunjuk Iran, yang mungkin menggerakkan 'sel-sel tidur' dari intelijen rezim lama atau bahkan memfasilitasi aktivitas ISIL. Tujuannya? Untuk menampilkan negara Suriah yang baru ini sebagai entitas yang lemah dan tidak mampu mengontrol keamanan. Jika benar, ini berarti masyarakat Suriah bukan hanya menghadapi ancaman internal, tapi juga perebutan pengaruh yang lebih luas dari kekuatan luar yang ingin mempertahankan dominasi atau kepentingannya di tengah transisi kekuasaan.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook